BogorOne.co.id – Pemerintah Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, terus berupaya menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya.
Masalah pengelolaan sampah, ancaman banjir, infrastruktur lingkungan, hingga penanganan stunting menjadi isu krusial yang memerlukan penanganan terpadu.
Lurah Kencana, Heri Agus Suherman, menegaskan bahwa kunci utama dalam menangani berbagai permasalahan tersebut berada pada soliditas dan penguatan kelembagaan di tingkat bawah, seperti pengurus RT, RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta mitra kelembagaan seperti kader PKK.
“Penguatan internal dan kelembagaan ini sangat krusial. Tanpa peran aktif RT, RW, LPM, dan ibu-ibu PKK, kita di kelurahan tidak akan bisa bekerja maksimal. Merekalah yang paling paham kondisi lingkungannya,” ujar Heri, Jumat (21/8/2026).
Ia menegaskan terkait permasalahan fisik seperti infrastruktur, penanganan sampah, dan banjir yang belum terselesaikan secara menyeluruh, pihak kelurahan terus mengintensifkan koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Tanah Sareal dan dinas-dinas terkait di lingkup Pemkot Bogor.
“Langkah nyata kita adalah memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Untuk perbaikan infrastruktur memang membutuhkan anggaran yang lumayan besar dan tidak mudah mengandalkan dana CSR semata. Oleh karena itu, kami rutin melakukan evaluasi mana program yang sudah berjalan, mana yang belum, dan apa saja yang wajib kita perbaiki bersama,” tegasnya.
Heri menjelaskan, selain sektor lingkungan, upaya pengentasan stunting juga menjadi fokus perhatian. Saat ini, jumlah kasus stunting di Kelurahan Kencana tercatat tersisa sekitar 40 kasus. Pihak kelurahan pun menggulirkan berbagai inovasi pendampingan gizi serta mendorong keterlibatan orang tua asuh.
“Untuk intervensi gizi, kita punya gerakan yang kita sebut program ‘Ayu Ting Ting’ atau Ayo Banting Stunting. Melalui program ini, kita menyalurkan bantuan makanan bergizi tinggi seperti telur dan ikan kepada anak-anak yang terindikasi stunting,” jelas Heri.
Kendati demikian, Heri mengungkapkan adanya tantangan tersendiri dalam menuntaskan angka stunting hingga nol. Salah satu faktor pendorongnya adalah mobilitas warga pendatang yang menyewa kontrakan di wilayah Kencana dengan kondisi ekonomi yang kurang memadai.
“Sering kali data stunting kita sudah turun, tetapi kemudian ada warga pendatang baru dari luar wilayah yang mengontrak di Kencana. Ketika diperiksa, ternyata mereka berisiko tinggi stunting karena faktor ekonomi keluarga yang kurang sehat. Dinamika penduduk ini yang terus kita dampingi dan intervensi bersama kelembagaan di wilayah,” pungkasnya.
Reporter : Resha Bunai
Editor : Muttaqien
























Discussion about this post