BogorOne.co.id | Gunung Sugih – Puluhan warga di Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, mengalami mual, muntah, dan diare setelah menyantap hidangan dalam acara yasinan pada Sabtu malam, 12 September 2026. Salah seorang warga meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan.
Korban meninggal bernama Nanik, 42 tahun, warga Kampung Terbanggi Mulya, Kecamatan Bandar Mataram. Ia meninggal pada Selasa siang, 15 September 2026, setelah menjalani perawatan di Klinik Medikal Bandar Mataram.
Jenazah Nanik kemudian dibawa keluarganya ke Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, untuk dimakamkan.
Sementara itu, warga lain yang mengalami keluhan kesehatan mendatangi sejumlah fasilitas kesehatan di Bandar Mataram. Mereka mendapat penanganan di puskesmas, balai pengobatan, hingga tempat praktik bidan desa.
Keluhan kesehatan mulai muncul beberapa jam setelah acara yasinan. Pada Sabtu sekitar pukul 22.00 WIB, sejumlah warga mulai mengalami mual, muntah, dan diare. Keluhan berlanjut hingga Minggu, 13 September 2026, dini hari.
Jumlah warga yang mengalami gejala serupa terus bertambah hingga Minggu sekitar pukul 15.00 WIB.
Kepala Puskesmas Jati Datar Mataram, M Prihatiningsih, mengatakan pada awalnya petugas tidak menduga kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Warga yang datang pertama kali mengeluhkan diare.
“Pada Sabtu malam, beberapa warga mulai datang ke klinik. Lalu, Minggu pagi ada satu hingga dua orang yang datang karena buang-buang air. Awalnya kami belum menduga ini kejadian luar biasa (KLB). Namun, semakin siang hingga sore hari, kejadiannya semakin beruntun,” kata Prihatiningsih, Selasa.
Petugas kesehatan kemudian menduga keluhan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi warga dalam acara yasinan. Namun, hingga kini belum diketahui makanan yang menjadi penyebab.
Puskesmas Jati Datar Mataram mengambil lima sampel makanan dari acara tersebut untuk diperiksa di laboratorium. Sampel itu terdiri atas mi, urap, daging kambing, ayam, dan bacem jengkol.
“Kami menyisihkan ada lima sampel makanan, yaitu mi, urap, daging kambing, ayam, dan bacem jengkol untuk diperiksa di laboratorium. Kami masih menunggu hasilnya,” ujar Prihatiningsih.
Menurut Prihatiningsih, warga tidak seluruhnya mengonsumsi makanan di lokasi acara. Sebagian membawa pulang sisa makanan untuk disantap bersama anggota keluarga pada malam hari.
Kondisi itu diduga membuat waktu munculnya keluhan berbeda-beda. Petugas mulai menerima laporan warga yang mengalami diare pada Minggu pagi.
Nanik merupakan salah satu warga yang sempat menjalani perawatan setelah mengalami gejala tersebut. Ia bersama suaminya sebelumnya diperiksa oleh petugas kesehatan setempat.
Namun, kondisi Nanik kemudian melemah sehingga harus dirujuk ke Klinik dr Bambang untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
“Karena kondisinya lemah, pasien dirujuk ke klinik dr Bambang. Dari malam hingga tadi pagi, tim medis masih terus berkomunikasi dengan dr Bambang saat melakukan visit (pemeriksaan). Namun, 30 menit hingga 1 jam setelahnya, pasien dinyatakan meninggal dunia,” kata Prihatiningsih.
Puskesmas Jati Datar Mataram masih melakukan penanganan terhadap warga yang mengalami gejala serupa. Petugas juga menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap lima sampel makanan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Hingga hasil laboratorium keluar, petugas belum dapat memastikan jenis makanan yang menyebabkan puluhan warga sakit dan berkaitan dengan meninggalnya Nanik.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post