BogorOne.co.id | Kota Bogor – Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai (BLT) senilai Rp500 ribu di Kebon Pedes, Kecamatan Tandah Sareal melakukan protes. Pasalnya, mereka dipaksa membeli minyak goreng dan beras senilai Rp175 ribu.
Seperti yabg dikatakan, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan banwa ia harus membeli beras dan minyak goreng di lokasi.
“Ya, kita dicegat harus beli beras sama minyak harga 175 ribu. Harus beli disitu,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (14/04/22).
Masalahnya, kata dia, harga yang ditawarkan lebih mahal dari biasanya. “Kalau lebih murah nggak apa-apa, ini lebih mahal,” katanya.
Sementara itu, Lurah Kebonpedes, Wildan Rayhan mengaku tak tahu menahu soal protes warga. “Saya nggak tahu. Mungkin ini inisiatif dari penyedia sembako,” ungkapnya.
Kendati demikian, pihaknya mencoba berpikir positif dari kejadian ini. Kemungkinan teman-teman dari agen tersebut berupaya untuk memudahkan masyarakat, ketimbang harus mencari di tempat lain.
Apalagi, sambungnya, agen yang menyediakan beras minyak goreng bukan abal-abal, dalam artian mereka juga sudah mendapatkan SK dari Kementerian Sosial.
“Kalau dari kami juga himbauan dari Dinsos itu tidak ada, hanya menghimbau dan mengarahkan bahwa uang itu di pergunakan untuk peruntukannya,” imbuhnya.
Ditanya mengenai keberatan warga soal harga. Ia menegaskan, bila harga relatif, tetapinyang pasti bantuan diberikan berupa uang tunai.
“Untuk harga, yang tadi dibilangnya ada yang masalahin harganya lebih mahal. Tapi intinya bantuan ini berupa uang. Saya berpikir positifnya aja. Cuman setau saya enggak memaksa juga koq, kalau saya,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kebonpedes, Yunia Ningsih menuturkan bahwa berdasarkan evaluasi yang dilakukan pihaknya dari penyaluran BPNT senilai Rp600 ribu lalu.
Diketahui warga penerima manfaat setelah mendapatkan bantuan tidak membelikan komoditi sesuai dengan peruntukannya.
Atas dasar itu, kata dia, dalam penyaluran BLT Migor ini pihaknya mencoba memfasilitasi warga penerima manfaat, dalam arti untuk memudahkan mereka.
Bahkan dia juga mengaku, banyak laporan ke saya RT, RW dan warga lainnya. Bu itu dapat uang tapi tidak dibelikan sesuai dengan peruntukan.
“Kami mengimbau yang disini, karena bantuan ini kan program BLT dan BPNT, mereka tidak usah jauh-jauh, jadi mereka tuh ada buktinya mereka tuh pulang bawa uang, bawa minyak dan bawa beras. Tapi kami tak memaksa,” ucap dia.
Saat disinggung apakah hal seperti ini akan dilakukan dalam penyaluran BLT kedua. Ia mengaku akan mengambil sisi terbaiknya saja. “Ya, bagaimana baiknya saja,” kata dia. (Fry)























Discussion about this post