BogorOne.co.id | Kota Bogor – Peningkatan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Bogor tidak hanya berimbas pada ketersediaan oksigen saja, namun kini juga mengalami kekurangan obat-obatan bagi pasien Covid-19 yang sedang di rawat di sejumlah rumah sakit termasuk RSUD Kota Bogor.
Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, dr. Ilham Chaidir mengatakan, sampai saat ini ada sekitar 200 lebih pasien yang sedang dirawat di RSUD dengan rata-rata kategori berat.
Menurut dr. Ilham, disamping membutuhkan pasokan oksigen, para pasien ini juga sangat membutuhkan obat-obatan yang bisa mencapai per pasien 16 tablet obat setiap hari dengan jangka selama lima hari.
“Sekarang dengan tidak ketersediaan obat ini, tentu kebutuhannya sangat banyak sekali. Karena obat-obatan ini tidak terpenuhi, terpaksa kami memakai plasma konvalesen,” ucapnya, Jumat (16/07/21).
dr. Ilham mengaku, pemakaian plasma konvalesen memang belum di produksi langsung, sementara mengharapkan dari PMI. Ini pun sangat lambat dalam mencari para pendonor.
“Mungkin bagi para penyintas bisa mendonorkan darahnya sehingga kita lebih mudah menolong orang,” jelasnya.
Sementara itu, menyikapi kekurangan obat-obatan disejumlah rumah sakit, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meminta secara khusus kepada penegak hukum untuk menyelidiki kelangkaan obat-obatan yang disinyalir ada penimbunan.
Dia mengaku bersama Kapolresta Bogor Kota meminta secara khusus penegak hukum mencari kemana sebetulnya obat-obatan ini. “Jangan-jangan ada yang menimbun,” katanya.
Jika sampai terjadi penimbunan kata dia, maka harus segera ditindak karena masyarakat dalam kondisi darurat tidak bisa menunggu dan harus ada ketegasan dari aparat.
“Ini penting, sebaiknya memang harus ada orang yang bertanggung jawab terhadap penimbunan,” tegasnya.
Menurut Dedie, untuk di RSUD obat-obatan ini memang didistribusikan langsung dari Kementerian Kesehatan. Tetapi, masyarakat yang mempunyai resep dokter sendiri, mencari ke apotek tidak ada.
“Nah ini yang harus kita telusuri lebih lanjut, sebetulnya obat ini ada dimana ? Jangan-jangan orang membeli hanya untuk persediaan, sedangkan kedaruratannya tidak tertangani karena tidak tersedia,” jelas dia.
Maka bangaimana pun caranya lanjut dia, semua harus saling membantu, saling bahu membahu mencari siapa sebenarnya oorang yang melakukan penimbun obat.
Hal ini, lanjutnya, terjadi di semua rumah sakit. Ada 21 rumah sakit yang membutuhkan oksigen dan obat-obatan di Kota Bogor. Pada saat seperti ini, nakes juga sudah banyak yang terpapar, oksigen tidak ada, obat tidak ada.
“Saya pikir pemerintah pusat dan daerah harus komitmen untuk membantu semaksimal mungkin keselamatan masyarakat, tetapi jangan ada oknum-oknum yang bermain. Dalam kondisi ini, kita tidak bisa mentolerir orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan,” pungkasnya. (Fik)























Discussion about this post