BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada pekan depan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh dua faktor utama, yakni eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Ia menilai, apabila kedua sentimen tersebut terus berlanjut, nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir Juni 2026.
“Kalau gejolak geopolitik di Timur Tengah masih terus berlangsung, kemudian spekulasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga, pada akhir Juni ini rupiah kemungkinan besar 99,99 persen akan Rp 19.000 per dolar AS,” kata Ibrahim, Minggu (7/6/2026).
Pada akhir perdagangan pekan ini, rupiah menguat tipis 13 poin atau 0,07 persen. Kendati demikian, mata uang domestik masih berada di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS, yakni ditutup pada posisi Rp 18.036 per dolar AS.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan otoritas moneter telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.
Langkah pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendorong masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Menurut Perry, kenaikan suku bunga di sejumlah negara telah memicu arus keluar modal dari pasar domestik, baik dari pasar saham, surat berharga negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.
Selain itu, BI juga berupaya menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui sinergi kebijakan moneter dengan pengelolaan kas pemerintah.
Perry mengatakan, salah satu langkah yang ditempuh adalah mempertahankan dana kas pemerintah di BI dengan skema peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan bank sentral kepada pemerintah.
“Dengan cara, pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tetapi ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah,” kata Perry
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post