BogorOne.id | Nanggung – Bekas area pertambangan batu bara milik PT PB di Bukit Mu-Leuit, Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, kini bersiap memasuki babak baru. Lahan yang kini telah berubah menjadi danau seluas kurang lebih 2.000 meter persegi tersebut direncanakan akan disulap menjadi destinasi wisata unggulan desa.
Terletak di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (MDPL), lokasi ini menawarkan panorama alam yang memikat. Pemerintah Desa Parakan Muncang optimistis, transformasi kawasan ini akan mendongkrak ekonomi masyarakat melalui sektor kepariwisataan.
Camat Nanggung, AE Saepuloh, mengonfirmasi rencana tersebut setelah meninjau langsung lokasi eks pertambangan itu.
“Saya sudah meninjau danau (setu) di Bukit Mu-Leuit ini. Saya yakin kawasannya punya nilai komersial tinggi jika dikelola menjadi destinasi pariwisata,” ujar AE Saepuloh kepada BogorOne di kantornya, Rabu 17 Desember 2025.
Rencana Hibah dan Pembangunan Fasilitas
Camat menambahkan, berdasarkan informasi dari Kepala Desa, lahan eks tambang tersebut dalam waktu dekat akan dihibahkan oleh pihak ahli waris kepada Pemerintah Desa Parakan Muncang.
“Bukan hanya danau, informasi yang saya terima menyebutkan jalan ber-hotmix serta lahan di sekitarnya juga akan dihibahkan. Lokasi itu sangat cocok untuk dibangun kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),” ungkapnya.
Ia berharap proses hibah dari pihak ahli waris PT PB dapat segera terealisasi agar pengelolaan spot wisata dan pelibatan CSR dari PT ANTAM untuk pembangunan kawasan bisa secepatnya berjalan. Tak hanya untuk wisata, Camat menilai lokasi tersebut sangat ideal untuk kegiatan Car Free Day (CFD) sesuai SK Bupati.
“Kondisi jalan sudah di-hotmix dan suasananya sejuk dengan panorama danau yang asri. Ini tempat paling cocok untuk CFD di Kecamatan Nanggung,” tambahnya.
Sejarah Terbentuknya Danau
Terpisah, Kepala Desa Parakan Muncang, Mauludin, menceritakan sejarah terbentuknya danau tersebut. Dahulu, PT PB melakukan penggalian batu bara hingga kedalaman 35 meter di Bukit Mu-Leuit pada era 1980-an. Namun, hasilnya tidak ekonomis karena kualitas batu bara yang masih terlalu muda.
Eksplorasi kembali dilakukan pada tahun 2018 oleh ahli waris berinisial YR, namun hasilnya tetap serupa. Karena dianggap tidak menguntungkan, perusahaan akhirnya menghentikan aktivitas dan meninggalkan lubang-lubang galian.
“Bukit Mu-Leuit ini merupakan daerah resapan air. Setelah lubang galian ditinggalkan, muncul banyak mata air yang akhirnya memenuhi lubang tersebut hingga membentuk danau seluas 2.000 meter persegi seperti sekarang,” pungkas Mauludin.
Editor : Jef Sukapura

























Discussion about this post