BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Ketergantungan produksi beras pada ketersediaan air menjadi tantangan bagi Kabupaten Bogor, meski wilayah timur daerah itu menjadi pemasok beras terbesar. Pemerintah Kabupaten Bogor berupaya menjaga pasokan melalui penyerapan hasil panen petani sekaligus mengantisipasi ancaman kekeringan di kawasan lumbung beras.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor, Andri Hadian, mengatakan pasokan beras untuk program Gerakan Pangan Murah (GPM) berasal langsung dari petani di Kecamatan Cariu, Tanjungsari, dan Jonggol. Ketiga kecamatan itu merupakan sentra produksi beras di wilayah Bogor Timur.
Menurut Andri, pasokan langsung dari petani turut menjaga kestabilan harga beras di tengah kenaikan sejumlah bahan pokok lainnya. Beras yang dipasok untuk program tersebut juga merupakan beras kualitas premium.
“Berasnya jenis premium, bukan medium, dan diambil langsung dari petani. Sekali produksi jumlahnya cukup banyak. Sebagai contoh, di Kecamatan Cariu sekali giling bisa mencapai 6 ton,” kata Andri, Kamis, 8 Oktober 2026.
Kapasitas produksi tersebut menjadi salah satu penopang distribusi beras melalui GPM. Andri menyebutkan kebutuhan beras untuk program itu minimal 1,7 ton di setiap kecamatan yang menjadi sasaran penyaluran.
Untuk menjaga produktivitas petani, DKP berkoordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor. Pendampingan diperlukan agar produksi dari kawasan lumbung padi tetap optimal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, ketersediaan air masih menjadi persoalan yang perlu ditangani. Andri mengakui sejumlah wilayah sentra produksi kerap mengalami kekeringan, sehingga membutuhkan intervensi untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Ia mengatakan pemerintah daerah perlu mengevaluasi kondisi kawasan lumbung padi secara berkala, terutama untuk memastikan kecukupan pasokan air bagi pertanian.
Di sisi lain, Andri memperkirakan stok beras dan harga komoditas tersebut masih terkendali hingga Desember 2026. Pemerintah daerah akan terus memantau pasokan untuk mengantisipasi gangguan yang dapat memengaruhi stabilitas harga.
Selain menjaga produksi, pemerintah daerah mendorong diversifikasi konsumsi pangan agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada beras. Salah satu alternatif yang dikembangkan adalah pengolahan umbi-umbian menjadi bahan pangan pengganti.
Andri mencontohkan keberhasilan wilayah Bojonggede mengolah ubi menjadi mi sebagai alternatif sumber karbohidrat. Upaya itu diharapkan dapat memperluas pilihan pangan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap kebutuhan beras.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post