BogorOne.co.id | Lima – Gempa bumi bermagnitudo 5,5 mengguncang kawasan Pegunungan Andes, Peru, pada Sabtu malam, 19 Juli 2026 waktu setempat. Sedikitnya enam orang meninggal dunia, lebih dari 30 warga mengalami luka-luka, dan sekitar 300 orang terpaksa mengungsi setelah puluhan bangunan rusak akibat guncangan.
Berdasarkan laporan The Guardian, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa terjadi pada pukul 21.24 waktu setempat. Episentrum gempa berada sekitar 2 kilometer di barat daya Kota Sicaya, Provinsi Huancayo, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.
Kedalaman gempa yang relatif dangkal membuat getaran terasa kuat di sejumlah wilayah sekitar pusat gempa. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, terutama rumah warga yang berada di kawasan pedesaan Pegunungan Andes.
Lembaga Pertahanan Sipil Nasional Peru (National Civil Defence Institute) menyebut proses pendataan korban masih berlangsung hingga Minggu, 20 Juli 2026. Tim penyelamat masih melakukan pencarian di sejumlah titik terdampak untuk memastikan tidak ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan.
Kepala Kantor Pertahanan Sipil setempat, Luis Vásquez, mengatakan tingkat kerusakan diperparah oleh kondisi bangunan yang sebagian besar masih menggunakan material tradisional berupa bata lumpur atau adobe.
“Penggunaan material adobe dalam konstruksi di kawasan Andes telah berkontribusi terhadap besarnya dampak dan kerusakan,” kata Vásquez kepada wartawan.
Rekaman televisi lokal memperlihatkan kepanikan warga di sejumlah desa terdampak, termasuk kawasan pertanian Chongo Bajo. Banyak keluarga memilih bermalam di ruang terbuka dengan beralaskan selimut karena khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan.
Selain merusak rumah warga, gempa juga menyebabkan sejumlah hewan ternak tertimbun reruntuhan. Warga terlihat berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih dapat digunakan dari bangunan yang mengalami kerusakan berat.
Salah satu warga terdampak, Hermenegilda Guamalato, mengatakan rumahnya hancur akibat gempa. Ia bersama tiga anaknya kemudian mencari tempat perlindungan di Distrik Huayucachi yang berada tidak jauh dari lokasi terdampak.
“Rumah saya hancur,” ujar Hermenegilda kepada radio setempat.
Peru berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), wilayah yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi. Negara tersebut kerap mengalami gempa akibat pertemuan sejumlah lempeng bumi yang aktif.
Salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah Peru terjadi pada 2007. Saat itu, gempa bermagnitudo 7,9 mengguncang Provinsi Pisco di Region Ica dan menewaskan hampir 600 orang serta menyebabkan kerusakan luas.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post