Oleh : Firdaus (Bung Roy)
Ketum (Forum Anak Negeri Nusantara)
BogorOne.co.id | Di tengah riuh rendah zaman, ketika rakyat mengangkat suara, negara demokrasi kita diguncang oleh gonjang-ganjing yang membara. Jalanan penuh dengan teriakan, spanduk terangkat, tangan mengepal ke udara sebuah tanda bahwa nurani rakyat belum mati.
Namun, di balik semangat itu, asap gas air mata kadang menyelimuti langit. Suara aspirasi dibalas dengan derap sepatu dan tameng baja. Demokrasi yang mestinya menjadi rumah bersama, seakan berubah menjadi arena pertarungan antara suara rakyat dan kuasa penguasa.
Apakah ini wajah sejati demokrasi?
Ataukah kita tengah menyaksikan demokrasi yang pincang, ketika hak rakyat berbenturan dengan tembok kekuasaan?
Gonjang-ganjing ini adalah cermin bahwa demokrasi tanpa keadilan hanya tinggal nama, dan demokrasi tanpa perlindungan rakyat hanyalah bara yang membakar dirinya sendiri.
Rakyat tidak menuntut surga, mereka hanya ingin haknya dihargai, suaranya didengar, dan masa depannya dijaga. Bila demokrasi masih hidup, maka api yang membara ini harus menjadi cahaya perubahan bukan sekadar asap yang mencekik.
Saudara-saudaraku, rakyat Indonesia yang berdaulat!
Hari ini kita berdiri di tengah badai gonjang-ganjing negeri ini. Negeri yang katanya demokrasi, tapi suara rakyat sering dipadamkan. Negeri yang katanya rumah bersama, tapi dindingnya retak karena ketidakadilan yang merajalela.
Apakah kita buta? Tidak! Apakah kita tuli?Tidak!
Kita melihat dan mendengar, bagaimana aspirasi rakyat dijawab dengan gas air mata, bagaimana kritik dibalas dengan intimidasi, bagaimana jeritan rakyat kecil tenggelam dalam lautan kepentingan elit.
Ingat! Demokrasi bukan milik penguasa, demokrasi milik kita, rakyat!
Demokrasi bukan panggung sandiwara untuk segelintir orang, tapi jalan terang untuk seluruh anak bangsa.
Hari ini kita nyatakan :
demokrasi kita sedang membara!
Membara oleh amarah rakyat, membara oleh ketidakpuasan, membara oleh harapan yang tak pernah padam.
Jika penguasa menutup telinga, maka suara rakyat akan mengguncang istana. Jika penguasa menutup mata, maka lautan massa akan menjadi cermin yang tak bisa mereka hindari.
Kita tidak menuntut lebih, kita hanya menuntut yang semestinya :
- Keadilan bagi yang tertindas!
- Kesejahteraan bagi yang miskin!
- Kebebasan bagi yang bersuara!
Saudara-saudaraku, mari kobarkan semangat perjuangan ini. Jangan biarkan bara demokrasi padam!
Karena bila api rakyat menyala, tak ada kekuatan yang mampu memadamkannya.
Hidup rakyat!
Hidup demokrasi!
Hidup Indonesia!
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post