BogorOne.co.id | Jakarta – Harga minyak global mengalami kenaikan lebih dari 2 persen, didorong oleh proyeksi peningkatan permintaan dari Badan Energi Internasional (IEA) serta ketegangan geopolitik terkait tarif Amerika Serikat dan potensi sanksi tambahan terhadap Rusia.
Minyak mentah Brent berjangka ditutup naik US$ 1,72 atau 2,5 persen ke level US$ 70,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$ 1,88 atau 2,8 persen ke posisi US$ 68,45 per barel. Sepanjang pekan ini, Brent mencatat kenaikan sebesar 3 persen, sementara WTI naik sekitar 2,2 persen.
IEA menyatakan pasar minyak global kemungkinan lebih ketat daripada yang terlihat, seiring permintaan yang meningkat untuk produksi kilang musim panas dan kebutuhan pembangkit listrik.
“Pasar mulai menyadari bahwa pasokan sedang terbatas,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, dikutip dari Reuters, Sabtu (12/7/2025).
Berdasarkan data terbaru, perusahaan-perusahaan energi di Amerika Serikat memangkas jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi selama 11 minggu berturut-turut. Kondisi serupa terakhir kali terjadi pada Juli 2020 saat pandemi Covid-19 menekan permintaan bahan bakar.
Di sisi lain, IEA meningkatkan proyeksi pertumbuhan pasokan minyak tahun ini, namun memangkas prospek pertumbuhan permintaan, yang mengindikasikan potensi surplus di pasar.
“OPEC+ akan segera dan secara signifikan meningkatkan pasokan minyak. Ada ancaman kelebihan pasokan yang signifikan. Namun, dalam jangka pendek, harga minyak tetap menguat,” ujar Flynn.
Indikasi lain dari permintaan jangka pendek yang kuat terlihat dari rencana Arab Saudi mengirimkan sekitar 51 juta barel minyak mentah ke China pada Agustus mendatang, jumlah tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Meski begitu, dalam jangka panjang, OPEC telah memangkas proyeksi permintaan minyak global pada periode 2026–2029 akibat melambatnya permintaan dari China.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post