BogorOne.co.id | Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat mengguncang perekonomian global dan memicu risiko resesi apabila berlanjut.
Dalam pembaruan laporan setengah tahunan yang dirilis pada pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia di Washington, lembaga itu menyoroti potensi gangguan pasokan energi global jika Selat Hormuz, jalur penting sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia, terganggu atau jika infrastruktur energi di Timur Tengah rusak.
“Sekali lagi, ekonomi global terancam keluar dari jalurnya,” demikian pernyataan IMF, dikutip dari AFP.
IMF menyusun beberapa skenario pertumbuhan ekonomi global berdasarkan tingkat eskalasi konflik. Dalam skenario dasar, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,1 persen pada 2026 dengan inflasi 4,4 persen.
Namun pada skenario terburuk, harga minyak diperkirakan melonjak hingga 110 dolar AS per barel tahun ini dan mencapai 125 dolar AS pada 2027. Kondisi ini dinilai dapat menekan pertumbuhan global hingga sekitar 2 persen, mendekati ambang resesi, dengan inflasi menembus 6 persen.
IMF menyebut kondisi tersebut hanya terjadi beberapa kali dalam beberapa dekade terakhir, dan mencerminkan risiko serius terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Direktur Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan dampak konflik tidak akan merata. Negara berkembang dan pasar negara berkembang diperkirakan menanggung tekanan hampir dua kali lebih besar dibanding negara maju.
Kenaikan harga energi dan pupuk juga berpotensi memicu lonjakan harga pangan, terutama di negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor.
IMF turut memangkas proyeksi pertumbuhan sejumlah kawasan. Timur Tengah dan Asia Tengah diperkirakan tumbuh 1,9 persen tahun ini, sementara Arab Saudi direvisi turun menjadi 3,1 persen atau lebih rendah 1,4 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.
Di kelompok ekonomi utama, pertumbuhan Amerika Serikat diperkirakan 2,3 persen pada 2026, sedangkan China tumbuh 4,4 persen, keduanya direvisi turun. Zona euro juga dipangkas menjadi 1,1 persen.
IMF mengingatkan pemerintah untuk tidak merespons tekanan harga dengan subsidi luas atau pembatasan harga yang tidak tepat sasaran karena dapat membebani fiskal dan memperburuk inflasi.
“Dukungan fiskal harus tetap terarah dan bersifat sementara,” tulis IMF dalam laporannya.
Lembaga itu juga menekankan pentingnya menjaga mekanisme pasar tetap bekerja, termasuk sinyal harga yang mencerminkan kelangkaan. Intervensi seperti kontrol harga dan pembatasan ekspor dinilai berpotensi menimbulkan distorsi baru.
Di sisi lain, IMF membuka kemungkinan bank sentral kembali menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi akibat harga energi meningkat, meski kondisi ekonomi global tengah tertekan gangguan pasokan.
Editor : R. Muttaqien






















Discussion about this post