BogorOne.co.id | Banda Aceh – Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 1,1 juta warga dari kelompok rentan di Aceh berada dalam kondisi berbahaya akibat layanan medis terhenti pascabanjir dan longsor yang melanda Sumatera.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan Aceh menjadi wilayah terparah. Hingga, 5 Desember 2025, sejumlah fasilitas Kesehatan, mulai rumah sakit rujukan, puskesmas, hingga klinik, rusak atau terendam banjir. Beberapa tidak beroperasi karena listrik padam, pasokan BBM habis, dan akses jalan terputus.
Rumah sakit utama terisolasi akibat jembatan roboh dan jalan tertimbun longsor. Tenaga kesehatan tidak dapat bergerak bebas, sementara distribusi obat dan logistik medis terhambat.
Agus merinci jumlah kelompok rentan di 18 kabupaten/kota di Aceh: 104.623 bayi, 101.008 balita, 394.250 ibu hamil, 2.380 ibu menyusui, 459.428 lansia, 17.077 penyandang disabilitas, dan 545 pasien hemodialisa.
“Kami pastikan semua kelompok rentan ini menjadi prioritas dalam penanganan,” katanya dalam tayangan YouTube, dikutip Beritasatu.com.
Pasien hemodialisa menghadapi kondisi paling gawat. Kerusakan unit hemodialisa memaksa mereka dirujuk ke luar daerah, namun terhambat jalur transportasi yang belum terbuka sepenuhnya.
Kemenkes memprioritaskan pemulihan layanan kesehatan dasar dengan mempercepat distribusi obat-obatan dan obat penyakit kronis, penyediaan vaksin pencegah kejadian luar biasa pascabencana, pengiriman logistik medis dan alat kesehatan darurat, serta pendataan kelompok rentan.
Agus menyebut koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, dan lembaga kemanusiaan terus diperkuat untuk membuka akses distribusi dan memulihkan layanan kesehatan.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post