BogorOne.co.id | Kota Bogor – Dalam diskusi publik yang digelar di Hotel Salak, Bogor Senin (28/03/22). Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) beri rekomendasi kepada pemerintah agar bio masa Indonesia harus dimanfaatkan sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri.
Ketua Umum APCASI Dikki Akhmar mengaku, bahwa pihaknya memiliki lokal suplayer salah satunya adalah PLN.
“Tentu kita tidak mungkin mengambil lebih mementingan ekspor keluar negeri. Market di Indonesia yang jadi persoalan apakah DMO diperlukan,” kata dikki kepada wartawan.
Menurut dia, ekspor itu dikawasan timur area secara logistik tidak bisa digunakan di dalam negeri. “Masa kita paksakan diekspor keluar negeri. Sementara maping tadi ada yang cocok dalam kebutuhan dalam negeri lebih untung dijual didalam negeri daripada ekspor,” jelas dia.
Dikki juga menuturkan dari Laporan PLN, ada 7.800 ton atau nasih 23 persen digunakan sebagai Biomasa PLN dan cangkang itu kebutuhannya 6 persen. Dari PLTU yang terdekat dengan sumber cangkang sawit.
“Totalnya 11, 5 juta ton pertahun. 2,5 juta ton yang kami ekspor. Sebetulnya sisanya masih banyak digunakan untuk kebutuhan dalam negeri,” ucapnya.
Dikki juga menambahkan kebanyakan wilayah yang sangat berpotensi yaitu untuk cangkang ada di daerah Sumatera, kemudian di daerah Kalimantan kebanyakan hampir semua pabrik tidak ada cangkang yang diekspor disana diserap oleh industri sawit yang ada di sana.
Kemudian ada juga Kawasan Industri Medan (KIM) mereka menggunakan.
“Jadi sekali lagi, kalau untuk daerah cangkang banyak diserap dalam negeri ngapain kita ekspor. Yang kami ekspor yang kebuang dan tidak ekpose. Kalaupun digunakan dalam negeri logistiknya mahal,” cetusnya.
Masih kata dia, tak hanya crude palm oil (CPO) yang harganya melambung, cangkang kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif juga diburu sektor industri dari negara di dunia.
Pada 2021, harga komoditas ini berkisar 95 dolar AS sampai 105 dolar AS per ton free on board (FOB). Tahun ini, naik dikisaran 118 dolar AS.
“Tahun ini harga cangkang sawit merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Harga indeks cangkang sawit 118 dolar AS,” tuturnya.
Dikki menjelaskan kenaikan harga cangkang kelapa sawit seiring dengan peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (renewable energy) dalam program bauran energi di beberapa negara di dunia.
“Harga cangkang sawit saat ini naik sekali, karena kan kebutuhan energi dunia semakin besar,” kata Dikki.
Menurutnya, Jepang saat ini merupakan pangsa pasar terbesar bagi cangkang sawit Indonesia dan diperkirakan akan terus menjadi pasar utama untuk komoditas tersebut.
“Kebutuhan (cangkang sawit) sudah 3,5 juta ton. Tiap tahun kebutuhan dia (Jepang) sampai berjuta-juta ton, bahkan tahun 2022 diprediksi sampai 6,2 ton,” kata dia.
Hal itu disebabkan oleh kebijakan energi Jepang yang menetapkan 24 persen pemenuhan energi di Jepang pada 2030 harus berasal dari energi baru dan terbarukan.
“Ya karena setiap tahun makin banyak membangun power plan yang berbasis bio energi, biomassa dan 70-100 persen bahan bakunya menggunakan cangkang sawit,” kata dia.
Selain Jepang, pasar eskpor cangkang sawit lainnya adalah Thailand, Taiwan, Korea Selatan, dan China. Bahkan, cangkang sawit Indonesia jadi rebutan oleh banyak negara karena kualitas yang baik.
Sementara negara lain yang juga pengekspor cangkang sawit seperti Malaysia memiliki karakteristik yang tipis. “Iya betul (jadi rebutan). Di Eropa sekarang lagi krisis biomassa. Selama ini mereka lebih banyak menggunakan wood pellet. Kemudian ada kebijakan 30 persen harus menggunakan cangkang sawit,” terangnya.
Akan tetapi, karena biaya pengirimannya jauh lebih tinggi sehingga negara-negara di Eropa tidak membeli cangkang sawit dari Indonesia. “Dia bawa cangkang dari Indonesia misalnya 35 ribu ton. Perjalanan menuju Eropa 40 hari. Maka dia juga harus mempertimbangkan logistic cost-nya juga,” terangnya.
Ia menambahkan, meskipun permintaan pasar internasional terhadap limbah kelapa sawit cukup tinggi, tapi hingga kini Indonesia belum bisa mengekspor komoditas tersebut karena keterbatasan pasokan.
“Masih jauh sekali, ketersediaan produksi cangkang kita baru 2,5 juta ton per tahun. Peluang kita bisa ekspor sampai 3,5-4 juta ton,” ujar dia.
Ada beberapa kendala yang membuat ekspor cangkang sawit belum meningkat, di antaranya adalah tidak menunjangnya infrastruktur jalan dan perizinan. Ia mengungkapkan, para petani selama ini kesulitan untuk menjangkau daerah pelosok perkebunan sawit.
“Risikonya tinggi juga. Ngambil cangkang di tengah kebun sawit, di pelosok. Beruntung kalau truknya nyampe, kadang-kadang terbalik di tengah jalan,” tandas dia. (Fry)
























Discussion about this post