• INFO IKLAN
  • Redaksi
  • VISI dan MISI
  • Kode Etik Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Cyber
  • Kebijakan Privasi
Kamis, Oktober 29, 2026
bogorone.co.id
  • Login
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
bogorone.co.id
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
Bogor One
No Result
View All Result
Home PERISTIWA

Karhutla Membakar 70 Ribu Hektare Kawasan 47 Taman Nasional, Habitat Satwa Terancam

Redaksi by Redaksi
29 Oktober 2026
in PERISTIWA
0
Kebakaran hutan

Petugas gabungan masih berjibaku memadamkan api yang membakar kawasan hutan TNWK, Sabtu (22/8/2026). Foto : Ist.

33
SHARES
33
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BogorOne.co.id | Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan melanda puluhan taman nasional di Indonesia sepanjang 2026. Api tidak hanya membakar vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa liar di kawasan konservasi, mulai dari hutan hujan tropis di Papua hingga rawa dan savana di Sulawesi.

Data MapBiomas Fire Indonesia mencatat sekitar 70.808 hektare kawasan di 47 taman nasional terbakar selama Januari-September 2026. Taman Nasional Wasur di Papua Selatan menjadi kawasan dengan luasan kebakaran terbesar, yakni sekitar 21.277,79 hektare. Disusul Taman Nasional Lorentz di Papua dengan 14.344,91 hektare dan Taman Nasional Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat dengan 12.127,74 hektare.

Besarnya luasan kebakaran tersebut memperlihatkan tekanan yang dihadapi kawasan konservasi. Kebakaran dapat menghilangkan tutupan vegetasi, mengurangi ketersediaan pakan, serta merusak tempat berlindung dan berkembang biak satwa. Tingkat kerusakan habitat bergantung pada ekosistem yang terbakar, intensitas api, dan kemampuan kawasan untuk pulih.

Ancaman itu tidak berhenti pada tiga taman nasional dengan luasan kebakaran terbesar. Sejumlah kawasan konservasi lain juga mengalami kebakaran hingga Oktober 2026. Beberapa kejadian bahkan menghambat aktivitas wisata, memaksa pengelola menutup jalur pendakian, dan membutuhkan upaya pemadaman intensif.

BERITA LAINNYA

pergerakan tanah

Hujan Deras Picu Pergerakan Tanah di Ciomas, Rumah Warga Amblas

29 Oktober 2026
banjir

Banjir Aceh Tenggara Putus Akses Jalan Nasional, Distribusi BBM Terancam

29 Oktober 2026
Dugaan kekerasan oknum aparat

Jurnalis Metropolitan Diduga Dipukul dan Diintimidasi Saat Liputan Demo, PWI Hingga AMSI Reaksi Keras

29 Oktober 2026
keracunan

Siswa Keracunan MBG, Orang Tua Desak Pengawasan Diperketat

29 Oktober 2026

Papua dan Nusa Tenggara Catat Kebakaran Terluas

Taman Nasional Wasur menjadi kawasan dengan area terbakar terluas dalam data MapBiomas Fire Indonesia periode Januari-September 2026. Kebakaran di kawasan ini mencapai sekitar 21.277,79 hektare.

Wasur memiliki bentang alam berupa rawa, savana, dan hutan yang menopang kehidupan beragam satwa, termasuk walabi, kasuari, serta burung air. Kebakaran berpotensi mengubah kondisi habitat dan mengurangi sumber pakan yang dibutuhkan satwa untuk bertahan hidup.

Di Papua, Taman Nasional Lorentz mencatat sekitar 14.344,91 hektare area terbakar. Kawasan yang memiliki ekosistem beragam ini menjadi habitat bagi satwa khas Papua, di antaranya kanguru pohon dan burung cenderawasih. Kerusakan vegetasi dapat mengganggu ruang hidup satwa, meski dampak aktualnya perlu ditentukan melalui pemantauan lapangan.

Sementara itu, kebakaran di Taman Nasional Gunung Tambora mencapai sekitar 12.127,74 hektare. Kawasan di Nusa Tenggara Barat tersebut menjadi habitat rusa Timor dan kakatua kecil jambul kuning. Tambora juga merupakan bagian dari Cagar Biosfer Tambora sehingga kebakaran berpotensi memengaruhi kawasan yang memiliki fungsi konservasi penting.

Di Sulawesi Tenggara, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mencatat sekitar 6.632,85 hektare area terbakar. Kawasan ini mencakup ekosistem rawa, savana, dan mangrove yang mendukung kehidupan anoa, babirusa, serta burung maleo.

Kebakaran pada bentang alam yang beragam tersebut dapat menimbulkan dampak berbeda. Api di kawasan rawa, misalnya, dapat memengaruhi vegetasi dan kondisi lahan, sedangkan kebakaran di savana dapat mengubah ketersediaan pakan bagi satwa pemakan tumbuhan. Besarnya dampak terhadap masing-masing spesies memerlukan data lebih terperinci.

Adapun Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, mencatat sekitar 4.433,53 hektare area terbakar. Kawasan ini merupakan habitat kakatua jambul kuning, julang Sumba, dan berbagai burung endemik. Hilangnya vegetasi berpotensi mempersempit ruang hidup satwa yang bergantung pada hutan.

Kebakaran Merambah Sejumlah Kawasan Konservasi

Di Jawa Timur, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi salah satu peristiwa yang mendapat perhatian karena menimbulkan korban jiwa. Sedikitnya enam relawan dilaporkan meninggal dalam kejadian tersebut.

Merujuk pada keterangan Kementerian Kehutanan, kebakaran mulai terjadi pada Agustus 2026 dan masih berlangsung dalam periode pelaporan. Data Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur mencatat luas lahan yang terbakar di kawasan TNBTS mencapai sekitar 3.531 hektare selama 1 Januari hingga akhir September 2026.

Di Sumatera, kebakaran juga melanda Taman Nasional Kerinci Seblat pada Agustus 2026. Luas karhutla yang dilaporkan mencapai 1.776 hektare, meski Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat menyatakan area yang benar-benar terbakar di dalam zona konservasi taman nasional relatif kecil.

Untuk mengantisipasi risiko kebakaran, pengelola menutup sementara kegiatan pendakian mulai 1 September 2026. Penutupan mencakup jalur Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci serta Gunung Masurai di Kabupaten Merangin.

Kebakaran juga terjadi di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, pada Oktober 2026. Berdasarkan pemantauan udara, luas kawasan yang terbakar diperkirakan mencapai 30-60 hektare. Titik awal kebakaran berada di wilayah Kabupaten Kuningan, dengan indikasi perambatan api menuju Kabupaten Majalengka pada hari berikutnya.

Di Maluku, kebakaran di Pulau Seram dilaporkan berlangsung selama berbulan-bulan hingga merambat ke kawasan Taman Nasional Manusela. Kebakaran yang disebut berlangsung sejak 29 Juli 2026 itu menyebabkan sekitar 26 hektare kawasan konservasi di Pasahari, Kecamatan Seram Utara, terbakar.

Peristiwa tersebut juga dikaitkan dengan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Maluku, termasuk Kota Ambon. Asap dilaporkan mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan. Kepala Balai Taman Nasional Manusela menduga terdapat unsur kesengajaan dalam kebakaran tersebut, tetapi penyebabnya masih dalam penyelidikan.

Di Kalimantan Tengah, kebakaran terjadi di sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Katingan, pada Agustus 2026. Luas kebakaran di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 121 hektare. Penanganan juga dilakukan di sejumlah titik lain di Katingan dan kawasan sekitarnya dengan luasan sekitar 15 hektare.

Meningkatnya risiko karhutla mendorong Kementerian Kehutanan menutup sementara kegiatan wisata pendakian sejak September 2026. Kebijakan ini dimaksudkan untuk membatasi aktivitas pengunjung ketika kebakaran masih mengancam kawasan.

Kebakaran Berulang di Way Kambas hingga Tanjung Puting

Taman Nasional Way Kambas di Lampung mengalami kebakaran dalam dua periode, yakni mulai Agustus dan kembali pada Oktober 2026.

Pada kejadian pertama, api membakar kawasan bagian utara taman nasional, dekat perbatasan dengan perusahaan di Kabupaten Lampung Tengah. Luas area terdampak diperkirakan sekitar 40-100 hektare.

Kebakaran kembali terjadi pada Oktober di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Area terdampak mencakup zona rehabilitasi dan sebagian zona rimba. Berdasarkan laporan relawan, luas kawasan yang terbakar dalam kejadian kedua diperkirakan sekitar 100 hektare.

Dua kejadian dalam periode berbeda tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap kawasan yang rentan terbakar. Namun, untuk memastikan apakah kedua peristiwa berkaitan, diperlukan informasi mengenai lokasi titik api, penyebab kebakaran, dan hasil penyelidikan pengelola.

Di Sulawesi Selatan, kebakaran di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berlangsung pada September hingga Oktober 2026. Luas area terdampak diperkirakan hampir 26 hektare.

Kepala balai taman nasional menyebut lokasi titik api di kawasan puncak dan celah-celah karst menyulitkan proses pemadaman. Medan yang sulit dijangkau membuat petugas menghadapi kendala untuk mencapai sumber api.

Adapun di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, kebakaran dilaporkan terjadi pada Oktober 2026. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 20 Oktober mencatat sekitar 1.234 hektare lahan terdampak.

Salah satu upaya penanganan yang dilakukan adalah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu pemadaman. Luas area terdampak membuat penanganan kebakaran menjadi penting bagi perlindungan kawasan konservasi tersebut.

Perlindungan Habitat Menjadi Tantangan

Sebaran kebakaran di puluhan taman nasional menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan. Kebakaran juga berpotensi mengganggu hubungan antara satwa dan habitatnya, terutama ketika vegetasi yang menjadi sumber pakan atau tempat berlindung rusak.

Dampaknya tidak seragam. Satwa yang hidup di hutan, rawa, savana, dan mangrove menghadapi kondisi habitat yang berbeda ketika kebakaran terjadi. Sebagian satwa mungkin berpindah ke kawasan lain, sedangkan spesies yang memiliki wilayah jelajah terbatas berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Meski demikian, luas area terbakar tidak serta-merta menggambarkan jumlah satwa yang terdampak atau tingkat kerusakan ekologis. Penilaian lebih lanjut memerlukan pemetaan tingkat keparahan kebakaran, identifikasi habitat yang rusak, serta pemantauan populasi satwa setelah api padam.

Data kebakaran hingga September dan rangkaian kejadian hingga Oktober 2026 memperlihatkan besarnya tantangan pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Selain memadamkan api, upaya perlindungan perlu mencakup pemantauan titik rawan, penelusuran penyebab kebakaran, dan pemulihan habitat yang terdampak

Editor             : R. Muttaqien

Related Posts

pergerakan tanah
BOGOR RAYA

Hujan Deras Picu Pergerakan Tanah di Ciomas, Rumah Warga Amblas

29 Oktober 2026
banjir
PERISTIWA

Banjir Aceh Tenggara Putus Akses Jalan Nasional, Distribusi BBM Terancam

29 Oktober 2026
Dugaan kekerasan oknum aparat
BOGOR RAYA

Jurnalis Metropolitan Diduga Dipukul dan Diintimidasi Saat Liputan Demo, PWI Hingga AMSI Reaksi Keras

29 Oktober 2026
keracunan
BOGOR RAYA

Siswa Keracunan MBG, Orang Tua Desak Pengawasan Diperketat

29 Oktober 2026
Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras
BOGOR RAYA

Jurnalis Diduga Alami Represif Saat Liput Aksi di Kota Bogor, Manajemen Layangkan Protes Keras

29 Oktober 2026
Puslabfor
BOGOR RAYA

Puslabfor Polri Selidiki Penyebab Kebakaran Tiga Ruko di Suryakencana Bogor

28 Oktober 2026
Next Post
Mahasiswa Universitas Trisakti

Mahasiswa Trisakti Demo di Istana Hari Ini, Bawa Tiga Tuntutan soal Supremasi Sipil

Discussion about this post

BERITA POPULER

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

9 April 2021
Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

8 April 2023
STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

30 Mei 2022
KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

16 September 2024
BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

16 Maret 2026

DARI REDAKSI

UMKM

Bogor Career Center dan UMKM Naik Kelas Antar Pemkab Bogor Raih Penghargaan

7 Juli 2026
Dahsyat! Kenalkan Calon Wali Kota, Ribuan Kader PKS Sambangi 799 RW

Dahsyat! Kenalkan Calon Wali Kota, Ribuan Kader PKS Sambangi 799 RW

7 Juli 2024
Jelang Ramadhan, Harga Sembako  Masih Terkendali

Jelang Ramadhan, Harga Sembako  Masih Terkendali

7 Maret 2023
Perumda PPJ Kembali Verifikasi Calon Pedagang Pasar Tanah Baru

Perumda PPJ Kembali Verifikasi Calon Pedagang Pasar Tanah Baru

30 Mei 2022

Tentang Kami

bogorone.co.id

Selamat Datang di Bogorone.co.id,
Portal Berita yang dikelola oleh PT BOGOR ONE NET MEDIA - SK Kemenkumham RI
No. AHU-0072.AH.01.02.TAHUN 2016

Telah diverifikasi oleh

Dewan Pers

Sertifikat Nomor 1422/DP-Verifikasi/K/X/2025

Info Iklan – Redaksi – Visi dan Misi – Kode Etik Wartawan – Kode Perilaku Perusahaan – Pedoman Media Cyber – Kebijakan Privasi

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In