Oleh : Firdaus Roy
Ketua Umum Forum Anak Negeri Nusantara (FANN)
BogorOne.co.id | Kemarahan rakyat tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia bukan sekadar letupan emosional tanpa dasar, bukan pula perilaku massa yang kehilangan arah. Kemarahan rakyat lahir dari akumulasi luka, dari perasaan dikhianati oleh mereka yang mestinya melindungi. Ia adalah jawaban dari pertanyaan panjang yang tak kunjung dijawab negara.
Sejarah dunia, termasuk sejarah bangsa kita, menunjukkan bahwa ketika rakyat marah, itu berarti ada sesuatu yang salah. Bukan pada rakyat, melainkan pada sistem yang seharusnya menjaga keadilan tetapi justru mengkhianatinya.
Mengapa Rakyat Bisa Gelap Mata?
Rakyat pada dasarnya sabar. Mereka rela bekerja keras, membanting tulang, mengalah pada kenyataan pahit. Mereka bertahan karena percaya bahwa ada negara yang menjamin hak mereka. Tetapi ketika kepercayaan itu dihancurkan, ketika suara mereka tidak didengar, ketika janji tinggal janji, maka kesabaran berubah menjadi bara api.
Bara itu lama-lama membesar. Ia berubah menjadi api amarah yang tak lagi bisa dikendalikan. Dalam kondisi itulah rakyat bisa gelap mata, bertindak membabi buta, seolah-olah tanpa arah. Namun di balik itu, sesungguhnya ada satu alasan sederhana: mereka kecewa.
Kekecewaan adalah sumber segala letupan itu. Dan kekecewaan rakyat bukan sesuatu yang remeh. Ia lahir dari rasa lapar, dari ketidakadilan, dari pengkhianatan.
Apakah Negara dan Pejabat Tidak Bisa Disalahkan?
Pertanyaan ini penting apakah negara dan pejabat tidak bisa disalahkan?
Ketika rakyat marah, mengapa yang pertama kali dituding adalah mereka? Mengapa negara begitu cepat melabeli rakyat sebagai anarkis, perusuh, pengacau ketertiban umum?
Padahal, jika kita berani bercermin, penyebab kemarahan rakyat justru ada pada negara dan pejabat itu sendiri.
Negara yang gagal menegakkan hukum dengan adil.
Pejabat yang sibuk memperkaya diri, lupa pada sumpah jabatan.
Kebijakan yang lebih menguntungkan segelintir elite ketimbang rakyat banyak.
Maka, bila rakyat marah, sebenarnya itu adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan wajah asli negara yang kehilangan nurani.
Nurani yang Hilang dari Kekuasaan
Kekuasaan, pada awalnya, adalah amanah. Ia diberikan oleh rakyat dengan penuh harapan. Namun sering kali, kekuasaan berubah menjadi candu. Para pejabat lupa bahwa mereka hanyalah pelayan rakyat. Mereka lebih suka dipanggil tuan, padahal seharusnya menjadi hamba.
Nurani kekuasaan mulai hilang ketika rakyat hanya dipandang sebagai angka dalam statistik, bukan manusia dengan perasaan dan kebutuhan. Hilang ketika pemimpin lebih sibuk menjaga kursinya daripada menjaga kesejahteraan rakyat. Hilang ketika hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Sejarah yang Berulang
Sejarah bangsa-bangsa di dunia membuktikan, amarah rakyat bisa meruntuhkan singgasana. Dinasti runtuh, rezim tumbang, kekuasaan hancur semua karena melupakan rakyat.
Tiongkok dengan Revolusi Xinhai, Prancis dengan Revolusi 1789, Indonesia dengan reformasi 1998 dan akhir agustus 2025 ini, semuanya lahir dari amarah rakyat yang tidak lagi bisa ditahan. Air yang menopang perahu, akhirnya menenggelamkannya.
Maka, mengapa kita harus kaget jika hari ini rakyat pun mulai marah? Apakah kita lupa bahwa tanpa rakyat, negara ini tidak ada apa-apanya?
Jangan Salahkan Rakyat
Menyalahkan rakyat yang marah sama saja menutup mata dari kebenaran.
Jangan salahkan mereka yang lapar, salahkan sistem yang membiarkan perut mereka kosong.
Jangan salahkan mereka yang berteriak, salahkan pejabat yang menutup telinga.
Jangan salahkan mereka yang kecewa, salahkan pemimpin yang berkhianat pada janji.
Rakyat bukanlah musuh negara. Rakyat adalah pemilik sah negara. Jika mereka marah, itu tandanya ada yang salah pada mereka yang sedang berkuasa.
Tanya Nurani Masing-Masing
Pada akhirnya, kita harus jujur bertanya pada nurani masing-masing
Apakah kemarahan rakyat ini murni kesalahan rakyat?
Ataukah ini akibat dari negara dan pejabat yang mengabaikan tanggung jawabnya?
Kemarahan rakyat memang bisa membabi buta, tetapi ia bukan kejahatan.
Ia adalah peringatan.
Ia adalah tanda bahwa negara sudah melenceng dari jalan keadilan.
Dan bila negara tidak segera berubah, maka amarah rakyat akan menjadi badai yang menghancurkan. Sebab rakyat bisa sabar, tetapi tidak bisa selamanya dibohongi.
Mari tanya nurani masing-masing
Apakah kita masih berpihak pada rakyat, atau kita sudah ikut menjadi bagian dari pengkhianatan itu?
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post