BogorOne.co.id | New Delhi – Krisis pasokan gas di India mulai menekan sektor kuliner dari sisi harga dan layanan, memicu lonjakan biaya hingga pembatasan operasional di berbagai daerah. Pelaku usaha makanan, dari hotel hingga pedagang kaki lima, terpaksa menyesuaikan produksi di tengah pasokan LPG yang menyusut akibat konflik di Timur Tengah.
Di sejumlah kota, dampak paling terasa terlihat pada kenaikan harga makanan dan minuman. Di Bihar, harga secangkir teh dilaporkan naik dua kali lipat dari 5 rupee menjadi 10 rupee. Kenaikan ini dipicu berkurangnya distribusi gas yang selama ini menjadi sumber energi utama dapur usaha kuliner.
Pengelola hotel di kawasan Ramghulam Chowk, Allen Christopher, mengatakan keterbatasan pasokan membuat operasional dapur tidak lagi berjalan penuh.
“Pasokan harian turun dari 12 tabung menjadi hanya 4 sampai 5 tabung,” ujarnya.
Kondisi itu memaksa manajemen memangkas jam layanan dan menghapus sejumlah menu, terutama olahan berbahan daging yang membutuhkan waktu memasak lebih lama.
Untuk menjaga operasional, sejumlah pelaku usaha mulai beralih ke alternatif energi seperti oven tandoor, kompor listrik, hingga bahan bakar tradisional seperti kayu dan arang. Namun, solusi ini menimbulkan persoalan baru, mulai dari peningkatan biaya hingga polusi asap yang mengganggu proses memasak.
Di Ashiana Nagar, pedagang kaki lima harus menggunakan arang meski harganya ikut naik. Selain memperlambat penyajian, penggunaan bahan bakar tersebut juga menghasilkan asap tebal yang mengganggu lingkungan sekitar.
Gangguan pasokan gas ini merupakan imbas dari ketegangan di Timur Tengah yang menyuplai sekitar sepertiga kebutuhan gas India. Distribusi yang tersendat memicu antrean panjang pengisian ulang LPG di sejumlah kota besar seperti Delhi, Noida, dan Lucknow.
Dampak krisis bahkan menjangkau institusi publik. Kantin Mahkamah Agung di Delhi menghentikan penyajian makanan panas dan beralih ke menu dingin seperti sandwich dan salad. Di sektor transportasi, Layanan Katering Kereta Api India (IRCTC) menginstruksikan penggunaan microwave serta makanan siap saji untuk mengurangi ketergantungan pada gas.
Asosiasi Hotel dan Restoran Chhattisgarh mengimbau pelaku usaha tidak menimbun gas agar distribusi tetap merata. Sementara itu, sejumlah jaringan restoran besar mulai kembali menggunakan metode memasak tradisional untuk menjaga produksi.
Pengamat memperingatkan, jika pasokan energi tidak segera pulih, tekanan biaya berpotensi memicu penutupan usaha kecil secara luas. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu rantai pasok makanan sekaligus mengancam mata pencaharian jutaan pekerja di sektor informal.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post