BogorOne.co.id | Kota Bogor – Wali Kota Bogor Dedie A Rachim meninjau dua sekolah negeri baru di Kota Bogor, yakni SMP Negeri 22 di Kecamatan Bogor Timur dan SMP Negeri 23 di Kecamatan Bogor Utara, Rabu (28/5/2025). Kedua sekolah tersebut dibangun dengan konsep satu atap bersama SDN Duta Pakuan dan SDN Cimahpar 3.
Dalam peninjauan tersebut, Dedie menyoroti persoalan kekurangan tenaga pengajar yang dinilainya menjadi tantangan utama dalam operasional sekolah baru. Di SMPN 23, terdapat 11 guru baru, sementara di SMPN 22 hanya tersedia 7 guru.
“Ini tentu belum ideal untuk mendukung proses belajar mengajar,” ujar Dedie.
Pemerintah Kota Bogor, menurutnya, tengah mencari solusi jangka pendek, salah satunya dengan metode audiovisual agar satu guru bisa mengajar lebih dari satu kelas secara bersamaan.
Dedie menjelaskan, setiap tahun sekitar 240 guru di Kota Bogor memasuki masa pensiun. Namun, rekrutmen pengganti melalui jalur CPNS maupun non-CPNS belum bisa dilakukan karena kebijakan zero growth dari pemerintah pusat.
“Sampai tahun depan, kekurangan guru kita diperkirakan mencapai 1.000 orang,” katanya.
Selain itu, Dedie menyoroti tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri. Di SMPN 23, kuota penerimaan siswa baru hanya 160 orang, namun jumlah pendaftar mencapai 265, termasuk dari wilayah perbatasan seperti Kabupaten Bogor.
“Ini menunjukkan bahwa minat masyarakat sangat tinggi. Maka ini bukan hanya tanggung jawab Pemkot, tapi juga pemerintah provinsi dan pusat,” tegasnya.
Terkait pembangunan infrastruktur, Dedie memastikan SDN Duta Pakuan dan SDN Cimahpar 3 ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Namun ia mengingatkan, pembangunan fisik harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan guru.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Irwan Riyanto menjelaskan bahwa konsep satu atap yang diterapkan kini berbeda dari sebelumnya. Bila dahulu SD dan SMP menempati satu gedung, kini keduanya dipisahkan secara fisik namun tetap berada dalam satu kompleks.
“Dengan desain seperti ini, kita bisa mengurangi potensi hal-hal yang tidak kita inginkan, terutama menyangkut kenyamanan siswa SD dan SMP,” kata Irwan.
Ia menambahkan, setiap sekolah didesain dengan fasilitas pendukung seperti laboratorium guna menunjang pengembangan minat dan bakat siswa.


























Discussion about this post