BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Pedagang di Rest Area Gunung Mas, Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, mengeluhkan kenaikan beban iuran di tengah sepinya pengunjung. Mereka menilai pungutan yang harus dibayarkan kepada pengelola belum sebanding dengan fasilitas yang tersedia.
Salah seorang pedagang, Evan, mengatakan saat ini pedagang dikenai iuran Rp80 ribu per pekan. Dengan begitu, mereka harus menyiapkan sekitar Rp320 ribu setiap bulan untuk membayar iuran tersebut.
Menurut Evan, besarnya iuran menjadi beban ketika omzet penjualan tidak menentu. Bahkan, pedagang terkadang tidak memperoleh penghasilan sejak pagi hingga siang hari.
“Terkadang sejak pagi sampai siang kami belum mendapatkan penghasilan sama sekali. Padahal, ketika pertama kali dipindahkan ke sini, kami berjualan secara gratis,” kata Evan, Minggu, 25 Oktober 2026.
Evan mengatakan para pedagang sebenarnya tidak keberatan dengan kewajiban membayar iuran. Namun, ia berharap pengelola memberikan keringanan ketika kondisi penjualan sedang lesu.
“Kalau sedang ramai, kami bisa membayar. Akan tetapi, kalau benar-benar sepi dan tidak mendapatkan penghasilan, seharusnya ada keringanan,” ujarnya.
Ia khawatir kondisi tersebut mendorong sebagian pedagang kembali berjualan di pinggir Jalan Raya Puncak. Karena itu, ia meminta pengelola menghadirkan solusi agar kawasan Rest Area Gunung Mas kembali ramai dikunjungi masyarakat dan wisatawan.
“Kami berharap ada solusi yang benar-benar membantu pedagang mendapatkan penghasilan, bukan hanya menambah kewajiban,” kata Evan.
Aktivis Karukunan Wargi Puncak, Joe Salim, menilai persoalan yang dihadapi pedagang tidak terlepas dari minimnya dialog antara pedagang dan pengelola Rest Area Gunung Mas, yakni PT Sayaga Wisata Bogor, badan usaha milik daerah Kabupaten Bogor.
Menurut Joe, kebijakan pengelola semestinya mempertimbangkan kondisi nyata para pedagang agar kebutuhan dan aspirasi mereka dapat terakomodasi.
Ia juga mempertanyakan peruntukan pungutan yang dibebankan kepada pedagang. Menurut dia, pungutan tersebut belum diikuti peningkatan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas berjualan.
“Pungutan-pungutan yang dilakukan juga tidak jelas peruntukannya, jauh dari menyejahterakan para pedagang. Hari ini, pedagang masih mengusahakan sendiri terkait kebutuhan air di Rest Area Gunung Mas,” ujar Joe.
Para pedagang berharap pengelola PT Sayaga Wisata Bogor mengevaluasi kebijakan iuran dan memperbaiki fasilitas di kawasan tersebut. Mereka juga meminta adanya komunikasi yang lebih terbuka agar pengelolaan rest area tidak semakin membebani pedagang yang tengah menghadapi penurunan pengunjung.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post