BogorOne.co.id | Kota Bogor – Program Sekolah Maung di Kota Bogor mulai membuka pendaftaran pada 25-29 Mei 2026. DPRD Kota Bogor mengingatkan pelaksanaan program tersebut harus dipersiapkan matang agar tidak menimbulkan kekacauan dalam proses penerimaan siswa baru.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor, Fajar Muhammad Nur, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat kerja bersama Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Jawa Barat untuk memastikan kesiapan teknis pelaksanaan program tersebut di dua sekolah yang ditunjuk, yakni SMAN 1 Kota Bogor dan SMKN 3 Kota Bogor.
“Kami memastikan juklak dan juknisnya karena waktunya sangat singkat dan berpotensi chaos kalau tidak dipersiapkan matang,” kata Fajar dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut dia, Sekolah Maung memiliki empat jalur penerimaan, yakni potensi akademik, prestasi akademik, akademik berbasis sertifikat, dan non-akademik. Untuk jalur potensi akademik dan prestasi akademik, penilaian terdiri atas 40 persen nilai rapor dan 60 persen Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Sementara pada jalur akademik berbasis sertifikat dan non-akademik, komposisi penilaian menggunakan 40 persen TKA dan 60 persen sertifikat pendukung.
Fajar mengatakan peserta yang mendaftar juga diwajibkan mengikuti tes psikologi dengan minimal IQ 130 skala Wechsler dari lembaga psikologi yang terdaftar di Lembaga Psikolog Indonesia.
“Tes psikologi ini tidak bisa sembarangan, harus dari lembaga yang terdaftar,” ujarnya.
Selain membahas mekanisme penerimaan, DPRD juga menyoroti skema domisili dan rencana kerja sama dengan sekolah swasta pendamping. Namun, hingga kini mekanisme kerja sama tersebut belum diumumkan secara rinci.
“Terkait sekolah swasta pendamping masih dibahas mekanismenya,” kata Fajar.
Ia menambahkan siswa kurang mampu yang diterima di Sekolah Maung nantinya akan mendapat bantuan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun besaran bantuan masih dalam tahap perhitungan.
Untuk jenjang SMK, SMKN 3 Kota Bogor membuka lima kompetensi keahlian, yakni kuliner, busana, tata kecantikan, perhotelan, dan teknik komputer jaringan. Berbeda dengan SMA, proses seleksi di SMK menggunakan 100 persen nilai rapor dengan bobot penilaian disesuaikan dengan jurusan yang dipilih.
Fajar menyebut rata-rata nilai minimal pendaftar di kedua sekolah tersebut diperkirakan mencapai 85.
“Kalau di bawah itu kemungkinan sulit masuk,” ujarnya.
Ia mengatakan perbedaan utama Sekolah Maung dengan sekolah reguler terletak pada penggunaan dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum nasional dan Cambridge.
“Karena menggunakan dua kurikulum, kemampuan bahasa juga menjadi penting,” kata dia.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post