BogorOne.id | Caringin – Lambatnya pengerjaan proyek rekonstruksi Jalan Cinagara–Tangkil membuat warga dua desa, yakni Desa Tangkil dan Desa Cinagara, Kecamatan Caringin geram. Penutupan jalan yang berlangsung berbulan-bulan memaksa warga mencari jalur alternatif berupa jalan setapak yang curam dan membahayakan, sehingga tak sedikit pengendara motor mengalami kecelakaan.
Untuk menghindari risiko kecelakaan di jalur curam tersebut, warga akhirnya nekat menerobos jalan utama yang baru tiga hari selesai dicor.
Proyek rekonstruksi jalan yang dikerjakan PT Sumia Darma Sinergi itu hingga kini diperkirakan baru mencapai 50 persen. Kondisi ini memicu banyak keluhan dari masyarakat, terutama karena akses kendaraan roda empat menjadi sangat terhambat di jalur yang dikenal ramai selama 24 jam tersebut.
“Ini kontraktor punya modal tidak sih? Jangan alasan susah bahan material. Buktinya proyek lain tetap bisa pengecoran. Dampaknya warga banyak kecelakaan akibat jalan pintas yang curam,” ujar Yadi, warga Desa Cinagara, Kamis 27 November 2025.
Ia menegaskan, warga terpaksa membuka jalan cor yang sebenarnya belum boleh dilalui demi mengurangi angka kecelakaan.
“Jalan alternatif itu sempit dan curam, banyak yang jatuh. Makanya warga maksa membuka jalan untuk roda dua,” katanya.
Warga juga mempertanyakan lambatnya progres pekerjaan yang panjangnya hanya sekitar 230 meter dengan lebar 4,5 meter, namun pengecoran dilakukan tidak konsisten.
“Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali baru dicor. Lambat begini yang dikorbankan masyarakat. Bahkan warga Lemah Duhur juga terdampak penutupan jalan ini,” ungkapnya.
Saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, pelaksana proyek dari PT Sumia Darma Sinergi, Ridwan, belum memberikan jawaban hingga berita ini diturunkan.
Kepala UPT Jalan dan Jembatan Wilayah 2 Ciawi, Heru Haerudin, membenarkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari warga.
“Benar, kami banyak menerima keluhan warga karena banyak kecelakaan. Kami sudah intervensi kontraktor agar pekerjaan dipercepat supaya penutupan jalan tidak terlalu lama,” kata Heru.
Heru juga mengakui bahwa aksi warga menerobos jalur yang baru dicor disebabkan lambatnya pekerjaan proyek tersebut.
“Warga memaklumi karena keterlambatan proyek. Mereka membuka akses roda dua karena terpaksa. Sebenarnya belum boleh dilalui, tapi kami tak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Terkait kendala proyek, Heru menyebut kontraktor berdalih sulit mendapatkan material cor beton. Namun pihaknya telah meminta kontraktor mencari solusi agar pekerjaan segera tuntas dan gangguan aktivitas warga tidak berlarut-larut.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : Muttaqien


























Discussion about this post