BogorOne.co.id | Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang melanda berbagai sektor turut menimpa industri media. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan profesi jurnalis di tengah perubahan lanskap digital.
Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi tersebut. Ia menilai, PHK yang terjadi menjadi sinyal berkurangnya relevansi profesi jurnalis jika tidak segera beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Saya sedih karena ketika terjadi PHK itu menunjukkan pekerjaan kita sudah tidak relevan lagi di era saat ini,” ujar Putra dikutip dari Beritasatu.com, Kamis (15/5/2025).
Putra, yang juga merupakan mantan jurnalis, menilai penurunan pendapatan iklan bukan satu-satunya penyebab PHK. Ia menyebut kegagalan manajemen dalam menemukan model bisnis baru turut berperan dalam krisis yang terjadi.
“Ini masalah cara bagaimana bisa menemukan model bisnis yang baru agar televisi ini bisa tetap menjadi relevan,” katanya.
Ia juga menyoroti pergeseran sumber informasi publik, yang kini lebih banyak berasal dari konten viral dan laporan warga dibanding peliputan profesional.
Menurutnya, kemajuan teknologi memungkinkan siapa saja memproduksi berita hanya dengan ponsel pintar dan media sosial, berbeda dengan era sebelumnya yang membutuhkan modal besar dan peralatan canggih.
Meski demikian, Putra optimistis industri media masih memiliki peluang untuk bertahan jika mampu berinovasi dan beradaptasi dengan cepat.
“Banyak yang bisa dilakukan, tetapi harus cepat dan tepat. Itu PR-nya,” ujarnya.
Putra mengungkapkan dirinya telah delapan tahun tidak aktif di dunia jurnalistik. Namun, ia berharap para pelaku industri yang masih aktif segera mengambil langkah strategis agar media arus utama tetap dibutuhkan masyarakat dan terhindar dari gelombang PHK massal.
























Discussion about this post