BogorOne.co.id | Jakarta – Rencana pemerintah untuk membatasi game online seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) setelah insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara matang karena permainan daring memiliki sisi positif sekaligus negatif.
Vanya, seorang mahasiswi di Jakarta Selatan, mengatakan game online tak semata membawa dampak buruk.
“Sisi positifnya, game online bisa jadi hiburan. Namun, sisi negatifnya, kalau terlalu mendalami, bisa terbawa ke dunia nyata,” ujarnya di dikutip dari beritasatu.com, Selasa, 11 November 2025.
Ia berpendapat pembatasan game seperti PUBG sebaiknya dilakukan lewat pengaturan batas usia pemain.
“Menurut saya, bisa dibatasi dari umur. Misalnya mulai dari 20 tahun ke atas,” kata Vanya.
Pandangan serupa disampaikan Tobi, warga lainnya, yang menilai wacana pembatasan sebaiknya tidak berlebihan. Ia menekankan pentingnya kesadaran pemain dalam mengatur waktu bermain.
“Ada yang main cuma buat hiburan, ada juga yang terlalu serius. Semua tergantung bagaimana orang menyikapi game itu,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyoroti dampak psikologis game online yang mengandung unsur kekerasan. Kebiasaan bermain game semacam itu, kata Prasetyo, dapat mengikis empati dan kepekaan sosial generasi muda.
Pemerintah kini tengah mengkaji mekanisme pengawasan dan pembatasan terhadap sejumlah game online agar dampaknya dapat dikendalikan tanpa menghilangkan unsur hiburan dan kreativitas di dalamnya.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post