BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan perdagangan, Senin, 16 Maret 2026. Mata uang Indonesia itu nyaris menembus batas psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pada perdagangan sore, rupiah berada di kisaran Rp 16.997 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp 17.006. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah juga melemah ke level Rp 16.990 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 16.934.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama datang dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong lonjakan harga minyak dunia serta memicu penguatan dolar AS.
“Ketegangan berlanjut antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang terus melakukan serangan timbal balik,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin.
Lonjakan harga energi dipicu pula oleh gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz—rute strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Kondisi itu mendorong harga minyak mendekati US$ 100 per barel dan berpotensi meningkat lebih jauh.
Menurut Ibrahim, sejumlah negara sebenarnya berupaya menahan lonjakan harga dengan menambah pasokan minyak ke pasar. Namun langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menekan harga.
Ia menyebut beberapa pihak berencana menggelontorkan cadangan minyak dalam jumlah besar ke pasar global, termasuk sekitar 400 juta barel. Meski demikian, ia menilai harga minyak masih berpeluang melonjak hingga US$ 130 per barel.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Lonjakan harga energi diperkirakan berpotensi menjaga tekanan inflasi sehingga membuka peluang suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan dolar juga dipicu meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.
“Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik,” ujar Amru.
Ia menambahkan pelaku pasar juga mencermati inflasi Amerika Serikat yang masih berada di sekitar 2,4 persen secara tahunan. Angka tersebut dinilai memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi itu cenderung menguntungkan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Amru menilai fundamental ekonomi domestik masih relatif kuat. Inflasi tetap terkendali, stabilitas makroekonomi terjaga, serta neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.
Menurut dia, pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui intervensi terukur di pasar valuta asing serta memastikan kecukupan likuiditas dolar di dalam negeri.
“Stabilitas pasar valas dan ketersediaan likuiditas dolar penting untuk menjaga kelancaran transaksi perdagangan internasional dan mempertahankan kepercayaan investor,” kata Amru.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post