BogorOne.co.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal April 2026, seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu sentimen global, terutama konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, rupiah tercatat melemah 76 poin ke level Rp 16.980 per dolar AS. Tren pelemahan ini dinilai berpotensi berlanjut dalam sepekan ke depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar AS cenderung menguat, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Pergerakan rupiah masih berpotensi melemah dengan kisaran menuju Rp 17.100 per dolar AS,” kata dia dalam risetnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan. Konflik di kawasan Timur Tengah berdampak pada terganggunya distribusi energi global, terutama setelah adanya pemblokiran Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Sementara dari dalam negeri, momentum konsumsi selama Lebaran 2026 dinilai belum cukup kuat untuk menopang rupiah. Padahal, periode hari raya biasanya menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.
Kombinasi faktor global dan domestik tersebut membuat prospek rupiah dalam jangka pendek masih rentan terhadap pelemahan.
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post