BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Di tengah pandemi Covid-19 banyak perusahaan yang mengalami gulung tikar. Sehingga berujung pada Pemutusan hubungan kerja (PHK). Salah satunya pengrajin (home industry) sandal sepatu.
Hal itu pula yang dialami tiga orang kakak beradik warga Kampung Laladon Cipadung RT 04 RW 012, Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Setalah di PHK mereka menjadi pengrajin atau ‘produsen’ mobil-mobilan berbahan baku dari spon.
Produksi mobil-mobilan yang sudah ditekuni sejak enam bulan itu awalnya hanya untuk penghasilan tambahan, namun kini menjadi penghasilan utama untuk menghidupi keluarga sederhana mereka.
“Dari dulu kami sudah membuat mobil-mobilan dari spon namun hanya memenuhi pesanan anak-anak tetangga,” kata Rudi Priansyah salah satu dari tiga kakak beradik itu, Rabu (10/08/21)
Diakui dia, semenjak di-PHK dia dan saudaranya yang senasib kehilangan pendapatan Rp1,4 juta perbulan. “Jadi sekarang kami seriusi usaha ini hingga perlahan-lahan bisa menghidupi keluarga dengan seadanya,” ujarnya.
Anak ke 4 dari 5 bersaudara pasangan Jaya dan Rukmini ini menerangkan sebelum mendapatkan bantuan pelaku usaha kecil menengah (UKM) dari Kementerian Koperasi dan UKM.
Uang dari bantuan itu, kata dia hanya bisa membuat puluhan unit mobil-mobilan karena ketersediaan modal. “Ya, adanya bantuan UKM sebesar Rp1,2 juta dalam satu bulan, mereka bisa membuat 100 unit lebih mobil-mobilan,” jelasnya.
Mereka bisa memproduksi 100 unit lebih mobil-mobilan per bulan dengan penghasilan kotornya lebih dari Rp 5 juta rupiah.
“Karena saat ini usaha kami mulai berkembang karena banyaknya pesanan dan butuh juga bantuan laptop untuk bisa menjualnya via aplikasi penjualan,” terangnya.
Rudi menuturkan semenjak mulai meningkatnya modal, ia dan kakak maupun adiknya mulai berani memasarkan mobil-mobilannya ke sosial media seperti facebook maupun whatsapp.
“Kami bisa membuat mobil angkot, Suzuki APV, Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Lamborghini, aneka macam truk dan bus wisata. Mobil-mobilan tersebut mulai dari harga Rp45 ribu hingga Rp75 ribu,” tuturnya.
Tak hanya melayani penjualan eceran, tetapi mereka juga bisa melayani penjualan partai besar. Bahkan saat ini sudah banyak menjual ke Kabupaten maupun Kota Bogor.
Dari banyak type mobil-mobilan, pria yang hanya lulus SMP ini menjelaskan yang paling banyak dibeli ialah tipe angkot. Hal ini sesuai julukan Bogor sebagai kota sejuta angkot.
“Ikonnya Bogor itu angkot, di mana Bogor Raya itu dijuluki kota sejuta angkot. Kebanyakan pembeli kami juga merupakan pedagang UKM dan mobil-mobilan ini menjadi oleh-oleh khas Bogor yang dibawa wisatawan ke daerah asalnya,” tandasnya. (Yudi)





























Discussion about this post