BogorOne.co.id | Cijeruk – Pemerintah Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, bersama para pemangku kepentingan menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin 24 November 2025.
Rakor ini digelar untuk memperkuat pelaksanaan program sekaligus membahas berbagai kendala teknis di lapangan.
Dalam rakor yang dipimpin Camat Cijeruk, Moch. Sobar Mansoer, dibahas sejumlah agenda penting, termasuk rencana pembangunan dua dapur baru untuk memenuhi kebutuhan 33.000 penerima manfaat MBG di wilayah Cijeruk.
“Saat ini ada 6 dapur MBG di Cijeruk yang mengcover 21.000 sasaran dari 33.000 sasaran yang tercatat, sehingga untuk memenuhi semua sasaran tersebut, saat ini Cijeruk kembali membangun 2 dapur MBG lagi bagi 11.300 sasaran yang belum tercover”, Kata Moch. Sobar Mansoer Camat Cijeruk kepada BogorOne.co.id dikantornya.
Camat menambahkan, mengingat di struktur organisasi kerja MBG, posisi pemerintah kecamatan belum diberi wewenang untuk melakukan monitoring proses pengolahan, pendistribusian, maupun menganalisa mutu makanan dan lainnya secara penuh.
“Sehingga dalam upaya turut mensukseskan program MBG di Cijeruk, Pemerintah kecamatan hanya fokus pada masalah kewilayahan saja, artinya jangan sampai jika ada masalah dilapangan, Camat tidak mengetahuinya ?”,bebernya.
Masih kata Camat, dari 6 Dapur MBG yang tersedia, sasarannya bukan hanya bagi kebutuhan MBG siswa siswi disekolah formal saja.
“Melainkan juga untuk Pesantren dan Pos Yandu”,ungkapnya.
Sejauh ini Camat tidak menampik jika proses penyaluran MBG diwilayahnya sarat kendala dan masalah.
“Dalam Rakor terungkap banyak masalah ditemui dilapangan, seperti jarak dapur MBG dengan lokasi sasaran yang seharusnya berjarak 6 kilometer dengan jarak tempuh 30 menit, ini malah lebih, sehingga masalah Topografi juga jadi bahasan dalam Rakor MBG Cijeruk”, terangnya.
Salah satu contohnya ujar Camat, di Cijeruk bayak ditemui akses untuk menuju kelokasi penyaluran, sulit dilalui oleh kendaraan roda empat.
“Sehingga proses penyaluran MBG sering terlambat”, jelasnya.
Dan guna menyelesaikan kendala itu kata Camat, pihak kecamatan akan membantu melakukan pemetaan ulang.
“Agar pelaksanaannya bisa berkeadilan bagi pengelola maupun pendistribusiannya”, bebernya.
Ditambahkan Camat, dalam Rakor juga di bahas pentingnya mengedepankan gizi tinggi serta meneliti PH air yang ditentukan SPBG sebelum mengolahnya bersama masakan.
“Sebab tinggi rendahnya PH air, bisa menyebabkan seseorang keracunan makanan. Oleh karena itu PH air juga harus diteliti dan diperhatikan. Begitupun didalam Rakor juga kami imbau agar masakan yang masih panas jangan langsung dikemas, karena bisa cepat basi dan berbahaya bagi kesehatan para siswa”,pungkasnya.
Editor : Jef Sukapura
























Discussion about this post