BogorOne.co.id | Ciampea – Kondisi ruas Jalan Raya Cinangneng – Bojongjengkol yang menghubungkan Desa Bojongjengkol dengan Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, kini memprihatinkan. Jalan berstatus milik Kabupaten Bogor tersebut mengalami kerusakan parah hingga mendekati hancur, meski baru diperbaiki sekitar delapan bulan lalu.
Kerusakan ini diduga dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Ciampea sejak medio Oktober 2025. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab; metode perbaikan yang dilakukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Wilayah IV Ciampea juga menuai kritik warga.
Metode Tambal Sulam Dinilai Tidak Efektif
Menurut warga setempat, kerusakan kembali terjadi karena ruas jalan tersebut hanya diperbaiki dengan metode tambal sulam, alih-alih masuk dalam sasaran proyek betonisasi yang dilakukan sebelumnya.
“Semestinya saat pekerjaan proyek betonisasi jalan di Desa Bojongjengkol menuju Desa Cinangka dulu, titik yang rusak ini masuk dalam sasaran betonisasinya. Tapi faktanya hanya diperbaiki dengan tambal sulam saja,” ujar Cahyadi, seorang guru yang tinggal tak jauh dari lokasi.
Cahyadi menceritakan bahwa perbaikan delapan bulan lalu dilakukan dengan menutup lubang-lubang jalan menggunakan batu split yang dilapisi aspal panas, kemudian dipadatkan dengan mesin giling mini. Namun, konstruksi tersebut dinilai rapuh.
“Wajar saja kalau kekuatan badan jalan hanya bertahan selama tiga bulan saja,” ketusnya.
Keterbatasan Radius Proyek Betonisasi
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pekerja di lapangan saat proyek berlangsung, tidak tuntasnya betonisasi hingga titik pertigaan Raya Cinangneng disebabkan oleh batasan volume pekerjaan dalam kontrak tender.
“Saya sempat bertanya kepada pekerja, mengapa betonisasi tidak sampai pertigaan? Jawaban mereka, jatah proyek yang didapat kontraktor pemenang tender hanya mencakup radius beberapa ratus meter saja, tidak sampai ke sana,” beber Cahyadi.
Setelah proyek betonisasi tuntas, pihak UPT PUPR Jalan dan Jembatan Wilayah IV Ciampea baru muncul untuk menangani sisa kerusakan jalan dengan metode tambal sulam yang kini kembali hancur tersebut.
UPT PUPR Belum Memberikan Keterangan
Hingga berita ini diturunkan, Kepala UPT PUPR Jalan dan Jembatan Wilayah IV Ciampea belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi telah dilakukan sebanyak empat kali ke kantor UPT, namun pimpinan dilaporkan selalu tidak berada di tempat.
“Pimpinan sedang tidak ada di tempat karena ada rapat dinas di Cibinong,” ujar petugas jaga kantor saat ditemui wartawan.
Kondisi jalan yang hancur ini kini kembali dikeluhkan pengguna jalan karena mengganggu mobilitas dan membahayakan keselamatan berkendara, terutama saat musim penghujan.
Editor : Jef Sukapura
























Discussion about this post