BogorOne.co.id | Jakarta – Pengamat otomotif ITB (Institut Teknologi Bandung), Yannes Martinus Pasaribu, mendesak pemerintah mempercepat penghapusan perlintasan sebidang di jalur kereta padat untuk menekan risiko kecelakaan. Menurut dia, pertemuan langsung antara rel dan jalan raya masih menjadi titik paling rawan dalam sistem transportasi karena kereta api tidak dapat berhenti secepat kendaraan jalan raya.
Yannes mengatakan evaluasi terhadap perlintasan sebidang tidak lagi bisa ditunda mengingat masih banyak titik perlintasan tanpa palang otomatis di Indonesia. Ia menilai solusi permanen untuk menghilangkan risiko kecelakaan ialah menerapkan grade separation melalui pembangunan flyover atau underpass.
“Evaluasi perlintasan sebidang sudah sangat mendesak, mengingat Indonesia masih memiliki ribuan perlintasan tanpa palang otomatis,” kata Yannes kepada Beritasatu.com, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurut dia, ketimpangan kemampuan pengereman menjadi persoalan utama di perlintasan sebidang. Mobil dan sepeda motor dapat berhenti dalam jarak pendek, sedangkan kereta membutuhkan jarak pengereman hingga ratusan meter.
Untuk perlintasan yang belum dapat dihapus, Yannes mendorong penerapan teknologi keselamatan seperti palang otomatis yang terintegrasi dengan sistem persinyalan serta sensor pendeteksi objek berbasis radar atau lidar.
Data PT KAI mencatat terdapat 423 perlintasan sebidang di wilayah Daop 1 Jakarta yang mencakup jalur Banten hingga Cikampek. Dari jumlah itu, sebanyak 130 titik merupakan perlintasan tidak terjaga atau belum dilengkapi palang otomatis.
Yannes menilai kecelakaan di kawasan Stasiun Bekasi Timur menjadi peringatan atas tingginya risiko di jalur perlintasan padat yang belum memiliki sistem pengamanan memadai. Ia juga mendorong modernisasi persinyalan melalui penerapan automatic train protection (ATP) agar kereta dapat melakukan pengereman otomatis saat terjadi kondisi darurat.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post