Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa episenter gempa ini terletak di laut pada koordinat 1,25° LU dan 126,27° BT. Pusat gempa berjarak 244 km arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman dangkal 47 km akibat aktivitas subduksi lempeng menggunakan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Berdasarkan hasil pemantauan komprehensif BMKG, anomali kenaikan tinggi muka air laut (tsunami) sempat terekam di sejumlah stasiun deteksi (tide gauge) Indonesia dengan rincian sebagai berikut:
-
06.58 WIB: Sensor di Tahuna mendeteksi riak air setinggi 0,3 meter.
-
07.20 WIB: Wilayah Loloda merekam kenaikan setinggi 0,09 meter.
-
07.27 WIB: Gelombang mencapai Ulu Siau (0,18 meter) dan Melonguane (0,32 meter).
-
07.34 WIB: Sensor di Paleleh mencatat ketinggian air hingga 0,45 meter.
-
07.39 WIB: Wilayah Tanjung Sidupa merekam kenaikan 0,32 meter.
-
07.51 WIB: Gelombang menerjang Bitung (0,29 meter) dan Ternate (0,14 meter).
-
08.20 WIB: Puncak gelombang tertinggi tercatat di wilayah Talengan dengan ketinggian mencapai 0,75 meter.
“Setelah memperhatikan kondisi terkini dan observasi di lapangan, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. BMKG menyatakan Peringatan Dini Tsunami resmi berakhir pada pukul 10.15.51 WIB,” kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Guncangan Kuat Skala VI MMI Dirasakan di Miangas
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida R., memaparkan bahwa getaran gempa bumi berenergi besar ini dirasakan sangat kuat di wilayah terdepan Indonesia. Daerah Miangas dan Melonguane mencatatkan intensitas guncangan terbesar mencapai skala VI MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh seluruh penduduk hingga memicu rontoknya plester dinding rumah dan kerusakan pada cerobong asap pabrik.
Untuk wilayah Siau dan Tagulandang, guncangan berada pada skala V MMI (benda-benda terpelanting dan tiang bergoyang). Wilayah Morotai, Halmahera Utara, dan Manado berada pada skala IV MMI yang membuat mayoritas warga terbangun dari tidur.
Sementara skala III-IV MMI dirasakan di Toli-Toli dan Gorontalo. Adapun wilayah Batang Dua, Ternate, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Parigi Moutong, Minahasa, Palu, Bitung, dan Bolaang Mongondow Timur merasakan getaran skala III MMI (getaran nyata di dalam rumah seakan ada truk besar melintas).
“Hingga pukul 10.00 WIB, hasil monitoring real-time BMKG menunjukkan telah terjadi 20 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan rentang magnitudo yang cukup besar, yakni antara M 3,9 hingga M 6,7,” urai Nelly.
Imbauan Audit Bangunan dan Penerapan Struktur Tahan Gempa
Mengantisipasi dampak kerusakan fisik akibat rentetan gempa susulan, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, meminta masyarakat di daerah terdampak untuk waspada dan melakukan pemeriksaan mandiri terhadap kelayakan struktur bangunan sebelum kembali masuk ke dalam rumah atau gedung.
“Apabila warga menemukan adanya kerusakan struktural atau retakan-retakan baru yang menganga pada tiang rumah, hal itu perlu diwaspadai dan jangan langsung menempati ruangan tersebut,” imbau Wijayanto.
Menindaklanjuti status pascabencana, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memastikan bahwa pihaknya segera menerjunkan tim ahli ke lokasi terdampak untuk melakukan pemetaan makroseismik (sebaran tingkat kerusakan) dan mikroseismik (karakteristik gempa susulan). Seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di daerah kini terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk survei mitigasi lanjutan.
Di akhir keterangannya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengajak masyarakat untuk mulai beralih menerapkan standardisasi struktur bangunan tahan gempa demi mewujudkan target zero victim (nol korban) di masa depan.
“Masyarakat dapat berkonsultasi secara gratis dengan para ahli struktur, perguruan tinggi setempat, atau mendatangi kantor BMKG yang tersebar di 191 lokasi di seluruh Indonesia,” pungkas Faisal.
Editor : Muttaqien

























Discussion about this post