BogorOne.co.id | Palembang – Pasca pandemik Covid 2022/2023 silam, ternyata dampaknya banyak berpengaruh pada roda perekonomian masyarakat ditanah air, karena terbukti tak sedikit dari para pelaku bisnis maupun pekerjanya alami keterpurukan pada perolehan ekonominya.
Rupanya Fenomena tersebut, tak jauh berbeda seperti apa yang dialami Ahmad Mirza Manan pria beranak 3 berusia 60 tahun warga Tanjung Enim Sumatera Selatan ini, yang sebelumnya berprofesi sebagai Guru Les Privat bahasa Inggris di kotanya, mengalami hal serupa, karena jumlah siswanya yang terhitung puluhan, begitu pandemik Covid19 , jumlah terus berkurang, sehingga membuat kondisi ekonomi keluarganya ikut terpuruk.
“Benar, akibat pandemik covid 19 yang melanda Indonesia pada beberapa tahun silam, maka dari situlah kondisi ekonom keluarga saya ikut terdampak, dimana jumlah siswa Les Privat dari yang awalnya berjumlah puluhan saya, semakin hari semakin bekurang, dan hanya tersisa lebih dari 2 orang saja,” kata Ahmad Mirza Manan mengisahkan, kepada BogorOne.co.id, pada Sabtu 27 Juni 2026.
Mirza, demikian panggilan akrabnya menambahkan, akibat sulit ekonomi yang dia alami, akhirnya munculah sebuah ide untuk membuka usaha warung kelontong, namun sayangnya, warung kelontong miliknya selalu menimbulkan masalah, diantaranya sepi pembeli.
“Karena saya sudah lelah merasakan betapa tidak enaknya kalau tidak punya uang itu ?!, akhirnya saya dan istri memberanikan diri membuka usaha kecil kecilan menjadi pengepul telur burung puyuh,” ungkapnya.
Mirza menceritakan, awal pertama ia dan istri nekat menjalankan usaha telur burung puyuh dengan hanya bermodal pas pasan, ia mulai dengan cara titip jual (Konsinyasi) kepasar pasar tradisional terdekat di Tanjung Enim, kemudian berlanjut kewarung warung kelontong dan warung sayur yang tak jauh dari kediamannya, termasuk kepada para pedagang asongan.
“Dalam waktu setahun, akhirnya usaha saya ini membuahkan hasil, yang awalnya saya hanya mendapat keuntungan minim, sejalan dengan waktu, lambat Laun keuntungan saya cukup besar, membuat kondisi ekonomi keluarga dirumah kembali stabil,” bebernya.
Dalam kurun waktu empat tahun sambungnya, terobosan pemasaran telur burung puyuhnya terus meluas yang awalnya hanya disekitar wilayah kecamatan Lawang Kidul, akhirnya merambah hingga ke Kecamatan Muara Enim, Kecamatan Tanjung Agung, Kecamatan Semendo, hingga Lampung.
“Untuk harga setiap bungkus telur Burung Puyuh yang saya titip jual ke pedagang hanya empat ribu lima ratus rupiah (Rp 4.500,-), sementara oleh pedagangnya dijual ke pembeli berkisar Rp. 5.000,- hingga Rp. 6.000,-, dimana saat pagi kita kirim, sore harinya saya keliling mengambil setorannya,” terangnya.
Mirza dan keluarga mengaku bersyukur, sebab kini hasil jerihpayah dan kerja kerasnya, omzet pendapatan yang di peroleh setiap hari dari bisnis telur burung puyuhnya melonjak hingga Rp. 1.500.000,-/hari, hingga Rp. 2.000.000,-/hari.
“Meskipun saya gagal meneruskan kuliah di Universitas Janabadra Jogyakarta maupun di Universitas Terbuka, tapi saya tidak pernah menyesalinya, karena kini dengan usaha telur burung puyuh, saya sangat bersyukur karena sudah mampu menafkahi keluarga lebih baik lagi, meski begitu, sampai saat ini saya masih menjalani profesi saya sebagai Guru Les Privat Bahasa Inggris dengan tujuan membantu anak anak diwilayah saya bisa cerdas dan mampu menguasai bahasa inggris,”pungkasnya.
Editor : Jef Sukapura

























Discussion about this post