BogorOne.co.id | Kota Bogor – Ketua YKI Kota Bogor, Yane Ardian ada 689 warga kota hujan yang derita kanker. Hal itu diungkapkan saat memperingati hari kanker sedunia Februari lalu.
Kegiatan tersebut mengusung tema, giat aksi dan belajar jejaring asuhan paliatif Kota Bogor. Asuhan Paliatif merupakan tindakan komprehensif asuhan medis bagi pasien yang hidup dengan penyakit serius, beserta keluarga mereka.
Meredakan rasa sakit dan gejala yang dialami pasien, serta menyediakan dukungan emosional, sosial dan spiritual untuk pasien dan keluarganya.
“Tujuan Asuhan Paliatif ini untuk meningkatkan kualitas hidup mereka yang hidup dengan penyakit serius dan untuk mendukung keluarga mereka. Memastikan pasien agar dapat hidup bebas dari rasa nyeri, dengan kualitas hidup terbaik yang dapat mereka miliki,” kata Yane.
Yane menuturkan, saat ini tercatat 689 warga Kota Bogor menjalani kehidupan dengan berbagai jenis kanker dalam berbagai stadium. Beberapa warga hidup sebagai penyintas dalam masa remisi.
Beberapa warga lain masih aktif menjalani terapi, baik di Bogor maupun di Jakarta. Tidak terhindarkan juga ada beberapa warga lain dalam stadium terminal dan menjelang ajalnya,” ungkapnya.
Warga diingatkan untuk melakukan deteksi dini baik Sadari, Sadanis, tes IVA, dan papsmear agar mengetahui kanker payudara dan leher rahim. “Apabila terjadi di tahap awal harus segera melakukan upaya penanganan yang tepat,” imbuhnya.
Secara simbolik, prakarsa paliatif juga mulai diperkenalkan dan digiatkan di Kota Bogor sejak 2017, sehingga diharapkan tercapai kualitas hidup di kalangan pasien kanker dan keluarga.
Masih kata dia, setelah ini ada kegiatan Pembekalan Asuhan Paliatif bagi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Lanjut di Kota Bogor, yang dilakukan mulai April hingga Juli 2021.
“Mari bersama-sama mewujudkan Kota Bogor, Kota Paliatif, Kota yang warganya memiliki kualitas hidup yang tinggi, terbebas dari rasa nyeri penyakit, nyeri psikis, nyeri sosial,” pungkasnya.
Sementara Wali Kota Bogor, Bima Arya menyebut, Kota Bogor ini satu-satunya kota di Indonesia yang secara tegas menyatakan visinya sebagai kota yang ramah terhadap keluarga.
“Di Indonesia dan di dunia cuma Kota Bogor, visi ini sederhana tapi sarat makna. Dari visi ini kemudian diturunkan ke dalam misi yakni menjadi kota sehat, kota sejahtera dan kota cerdas,” kata Bima.
Bima menjelaskan, misi nomor satu itu sehat karena ujung-ujungnya targetnya menyehatkan bangsa dan keluarga. Dimensi ini yang sering kali tidak tepat, banyak pemerintah daerah yang salah menyiapkan hanya dalam aspek kuratif nakes, faskes.
“Jaminan ini tentu perlu, tapi kesehatan multi dimensi dan multi sektor jadi tidak sesederhana itu,” ujarnya.
Menurut dia, Kota Bogor harus lebih intensif untuk menjaring asuhan paliatif dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan dan dasawisma. Selain itu, membangun sistem paliatif penting.
Sehingga lanjut orang nomor satu di kota hujan itu, bukan hanya melakukan pendataan terapi, namun pemerintah harus hadir meringankan penderita dan membuat hidupnya berkualitas
“Saya minta Rumah Sakit fokus pada di ujung sana, sampaikan kita fokus pada kolaborasi multi disiplin dan penguatan setiap level, jadi mendekatkan Bogor sebagai kota keluarga hadir melalui jejaringnya,” pungkas Bima. (Gie)





























Discussion about this post