BogorOne.co.id | Mataram – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memperkuat pengelolaan kawasan pendakian Gunung Rinjani untuk mewujudkan destinasi pendakian kelas dunia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemanfaatan teknologi, mulai dari pemasangan CCTV hingga sistem monitoring digital.
Kepala Balai TN Gunung Rinjani Budhy Kurniawan mengatakan, pengelolaan kawasan diarahkan agar memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat dengan menerapkan prinsip profesional, adaptif, dan berkelanjutan.
“Visi pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani adalah menjadikan kawasan ini sebagai destinasi pendakian kelas dunia. Saat ini semua capaian sudah on the track,” ujar Budhy dikutip dari beritasatu.com, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut Budhy, konsep pendakian kelas dunia tidak hanya soal popularitas, tetapi penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan kawasan. Balai TNGR menetapkan tiga prinsip utama, yakni konservasi lingkungan, keselamatan pengunjung, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Ketika bicara pendakian kelas dunia, yang pertama harus dijamin adalah konservasi lingkungannya. Kedua, keselamatan pengunjung. Ketiga, nilai manfaat ekonomi lokal,” katanya.
Balai TNGR terus membenahi infrastruktur pendakian, termasuk jalur dan fasilitas pendukung. Pada 2026, fokus pengelolaan juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk pelayanan pendakian dan pengawasan kawasan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem monitoring online melalui CCTV. Saat ini, tujuh unit CCTV telah terpasang dan akan ditambah delapan unit lagi secara bertahap. CCTV ditempatkan di titik-titik strategis seperti jalur pendakian utama, area perkemahan, dan lokasi aktivitas pendaki.
“Dengan adanya CCTV, monitoring bisa lebih efektif. Nantinya juga disiapkan command center di Balai sebagai pusat pengawasan seluruh aktivitas pendakian,” ujar Budhy.
Selain CCTV, Balai TNGR juga mengembangkan sistem smart patrol untuk pengamanan dan perlindungan kawasan konservasi. Pengawasan dilakukan untuk mendeteksi potensi kecelakaan sekaligus memastikan kepatuhan pendaki terhadap standar operasional prosedur (SOP), termasuk pengelolaan sampah dan perlindungan lingkungan.
Budhy menegaskan, tidak ada standar internasional baku terkait pendakian kelas dunia. Namun, Balai TNGR terus mengadopsi praktik terbaik sesuai karakter kawasan dengan mengedepankan prinsip konservasi, keselamatan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post