BogorOne.co.id | Jakarta – Bau napas atau halitosis kerap dianggap sepele dan hanya terkait kebersihan mulut. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa aroma napas dapat menjadi indikator awal adanya gangguan kesehatan serius di dalam tubuh.
Allen Zhang, teknolog gigi sekaligus pendiri ProDENT perusahaan teknologi pencitraan dalam mulut untuk deteksi dini penyakit mengungkapkan bahwa bau napas bisa memberikan informasi penting soal kondisi medis seseorang.
“Napas Anda bisa menjadi jendela mengejutkan terhadap kondisi kesehatan,” ujar Zhang seperti dikutip dari Daily Mail
Menurutnya, terdapat lima jenis bau napas yang umum dijumpai dan sering kali diabaikan, padahal dapat menandakan masalah kesehatan tertentu.
Pertama, bau buah atau aseton, menyerupai aroma permen atau penghapus kuteks, bisa menjadi tanda diabetes yang tidak terkontrol. Aroma ini menunjukkan kadar keton yang tinggi dalam darah.
Kedua, bau logam pada napas dapat mengindikasikan gangguan ginjal atau paparan logam berat. Dalam kondisi ini, limbah seperti urea menumpuk dalam tubuh dan berubah menjadi amonia di air liur.
Ketiga, bau amis atau bau ikan disebut berkaitan dengan trimethylaminuria, kelainan metabolik langka yang menyebabkan kegagalan tubuh memecah senyawa trimetilamina. Bau ini juga bisa menjadi gejala fetor hepaticus, kondisi yang timbul saat fungsi hati menurun dan racun menumpuk dalam darah.
Keempat, napas berbau telur busuk disebabkan oleh gas hidrogen sulfida yang terbentuk selama proses pencernaan, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaan.
Kelima, bau apak atau jamur dapat mengarah pada kerusakan ginjal atau hati, bahkan mengindikasikan gagal hati.
“Ini bukan sekadar soal kebersihan mulut, tapi bisa menjadi petunjuk diagnostik penting,” tambah Zhang.
Saat ini, teknologi modern memungkinkan dokter mendeteksi risiko penyakit melalui tanda-tanda kimiawi dalam napas, seperti senyawa sulfur dan keton yang dikenal sebagai oral biosignatures.
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post