BogorOne.co.id | Jakarta – Penyebab heat stress ternyata tidak selalu berasal dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan. Penelitian terbaru Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan suhu tinggi di dalam rumah juga dapat memicu gangguan kesehatan akibat panas, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia).
Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Aditya Lia Ramadona, mengatakan riset yang dilakukan di Yogyakarta menemukan suhu rata-rata di dalam rumah lansia mencapai 31 derajat Celsius. Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko memicu heat stress apabila berlangsung terus-menerus.
Penelitian itu juga menunjukkan setiap kenaikan selisih suhu antara dalam dan luar ruangan sebesar 1 derajat Celsius meningkatkan risiko heat stress sekitar 32 persen. Temuan ini menegaskan bahwa ancaman panas tidak hanya dialami mereka yang beraktivitas di luar rumah, tetapi juga penghuni rumah dengan sirkulasi udara yang kurang memadai.
Ramadona menjelaskan heat stroke menjadi salah satu dampak paling serius akibat paparan suhu tinggi. Kondisi darurat medis tersebut terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu sehingga mengganggu fungsi organ vital dan otak.
“Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak,” ujar Ramadona dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Ia mengatakan gejala heat stroke meliputi suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Menurut dia, ancaman tersebut kerap luput dari perhatian karena masyarakat menganggap cuaca panas merupakan kondisi yang biasa terjadi di negara tropis seperti Indonesia.
Padahal, penelitian tim UGM juga menemukan kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.
“Studi kami di Yogyakarta menemukan kenaikan satu derajat Celsius suhu rata-rata mingguan berasosiasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu-anak di layanan kesehatan primer,” katanya.
Ramadona menyarankan masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh, mengenakan pakaian yang ringan dan mudah menyerap keringat, mengurangi aktivitas fisik berat pada siang hari, serta segera mencari tempat yang teduh ketika suhu udara meningkat. Aktivitas olahraga maupun pekerjaan berat juga dianjurkan dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu lebih rendah.
Menurut Ramadona, menghadapi ancaman panas ekstrem tidak cukup hanya mengandalkan perubahan perilaku individu. Ia menilai Indonesia perlu membangun sistem peringatan dini, menyesuaikan jam kerja dan sekolah saat suhu ekstrem, memperkuat perlindungan bagi pekerja luar ruangan, serta meningkatkan kesiapan layanan kesehatan.
“Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial,” ujarnya.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post