BogorOne.co.id | Kota Bogor – Puluhan warga Kota Bogor datangi posko respon cepat penanganan bantuan set top box (STB) di Hotel Salak, Kota Bogor., setelah mendapat pengumuman ini “Kepada Rumah Tangga Miskin (RTM) yang belum menerima STB”.
Salah satu warga Rancamaya Siti mengatakan, adanya info tersebut ia mendatangi posko respon cepat penanganan bantuan STB.
“Nah setelah saya kesana, disana ternyata pengecekan lewat link. Ya kalo lewat link bisa dirumah, ngapain harus dateng kesana, kita kan bisa ngecek dirumah,” ucap kepada BogorOne kemarin.
Lanjut dia, pas dirinya cek kesana ternyata tidak bisa masuk sebab bukan penerima, dan itu data dari K3 ngambilnya Kominfo nya, itu dari petugas posko. “Ya kita semua kecewa, yang datang kesana itu lebih dari 50 orang,” ujar dia.
Dirinya mengaku mengunjungi posko sekitar Pukul 07.00 WIB, karena takut antriannya panjang. Diakuia dia mendapatkan info pembagian STB gratis itu dari seseorang yang bisa di percaya. Dia ngambil pengumuman nya itu dari IG nya Pemkot.
“Sekarang hanya ngecek saja lewat NIK dan KK itu mengecek nya dari kominfo.go.id pengecekan STB, kita tidak terdaftar ngapain kita kesana cape cape. Jadi kita kesana itu bukan mendapatkan STB, tapi hanya pengecekan,” tuturnya.
Dia mengaku heran, mengenai data penerima bantuannya dari mana, karena tidak ada pengajuan dari RT, RW sampai ke Kelurahan itu tidak ada pengajuan STB.
“Nah saya tanya data ini dari mana? Kalo sasaran orang miskin biasanya data di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sedangkan pengumuman nya itu data dari DTKS, dan sedangkan petugas disana yang perempuan di posko itu bilang ini bukan data dari DTKS tapi data dari K3, K3 saya tidak ngerti,” tambah Siti.
Ibaratnya dia orang terpercaya, tidak mungkin dia berbohong, tapi ternyata disana bukan posko penanganan untuk pemberian STB cuma pengecekan terdaftar atau tidak.
Masih kata dia, dirinya mengaku kecewa karena tidak ada sosialisasi ke kampung kampung atau ke kelurahan kelurahan bahwa ini akan di stop. “Ya, untuk tv analog dan cara mendapatkan tv digital harus seperti apa dan STB nya harus seperti apa dan katagori nya kita tidak tahu,” keluhnya.
Tapi selama ini tidak ada, dan memang tidak ada mungkin, kita tahunya bahwa itu melalui media tv juga. Selama ini tidak ada dari RT RW kader kelurahan, pernah ada yang turun itupun datanya bukan dari pengajuan tau tau turun. Itu pun hanya beberapa orang, per RW pun hanya 3 orang.
“Jangan dulu lah, kita sosialisasi dulu pembetulan dulu di bawah, jangan yang dapet yang punya mobil. Kalo yang ekonomi nya lemah dia hanya buat mengojek gimana mau beli, pasti lebih buat beras dulu,” paparnya.
Sekarang tv di nonaktifkan, warga kebanyakan main handphone, itu kalo yang mempunyai HP. Kalo yang tidak mempunyai ya gimana.
“Besar harapan sih, pemerintah itu mensosialisasikan dulu ke warga, bila perlu STB nya dor to dor di datangi layak dan tidak nya karena banyak warga yang layak akan mengaku ngaku miskin,” tandasnya. (Yud)
























Discussion about this post