BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Tiga anggota keluarga di Kampung Parigi, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, terjangkit demam berdarah dengue (DBD) secara beruntun. Kasus tersebut ditemukan setelah petugas kesehatan mendapati sejumlah genangan air dan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk di sekitar rumah.
Muliawati, 40 tahun, menjadi anggota keluarga pertama yang mengalami gejala DBD. Ia mulai merasakan gejala pada 16 September 2026 dan harus menjalani perawatan selama sepekan di Rumah Sakit Siloam Tangerang karena kadar trombositnya terus menurun.
Setelah kondisi Muliawati membaik, putrinya yang berusia 14 tahun mengalami DBD. Tak lama kemudian, adik Muliawati yang berusia 28 tahun juga dinyatakan terjangkit penyakit yang sama.
“Iya, kami satu keluarga kena DBD beruntun. Pertama saya, lalu anak dan adik,” kata Muliawati, 8 Oktober 2026.
Rangkaian kasus tersebut mendorong Puskesmas Cicangkal, Rumpin, melakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan tempat tinggal keluarga itu.
Petugas menemukan sejumlah lokasi yang dinilai berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Genangan air dan kondisi lingkungan yang kurang bersih menjadi perhatian dalam pemeriksaan tersebut.
Puskesmas kemudian melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk memutus potensi penularan. Petugas juga menaburkan larvasida atau bubuk Abate pada sejumlah tempat penampungan air serta melakukan pengasapan atau fogging untuk membasmi nyamuk dewasa.
Namun, Penanggung Jawab Program DBD Puskesmas Cicangkal, Umar Muhdi, mengatakan fogging bukan langkah utama untuk mencegah DBD.
Menurut dia, fogging hanya menjadi tindakan untuk membantu memutus penularan setelah ditemukan kasus. Cara utama mencegah DBD tetap dengan memberantas tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Kami harap masyarakat waspada DBD. Caranya dengan selalu membersihkan lingkungan, menguras dan membersihkan genangan air,” kata Umar.
Fogging, kata Umar, hanya efektif membunuh nyamuk dewasa. Adapun jentik nyamuk dapat tetap bertahan jika tempat penampungan air tidak dikuras dan dibersihkan secara rutin.
Karena itu, Puskesmas meminta warga menerapkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik atau Jumantik serta menjalankan 3M Plus sedikitnya sekali dalam sepekan.
Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Warga juga dapat menggunakan bubuk Abate pada tempat penampungan air sesuai kebutuhan. Penggunaan lotion antinyamuk juga dianjurkan, terutama pada pagi sekitar pukul 08.00-10.00 dan sore pukul 15.00-17.00.
Umar meminta warga segera memeriksakan diri ke puskesmas jika mengalami demam tinggi mendadak yang tidak kunjung turun selama dua hingga tiga hari.
Puskesmas Cicangkal juga mengimbau warga Kampung Parigi dan wilayah sekitarnya melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan. Upaya tersebut dinilai penting karena tempat-tempat kecil yang menampung air dapat menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk.
Kasus tiga anggota keluarga yang terjangkit DBD secara beruntun menjadi peringatan bahwa penanganan penyakit tersebut tidak cukup mengandalkan fogging setelah kasus muncul. Pemberantasan sarang nyamuk dan pengawasan lingkungan secara rutin menjadi upaya utama untuk mencegah siklus penularan berulang.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post