Oleh : Raden Gladis Muthia Fauziah. Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University
BogorOne.co.id – Saat ini, kita hidup dalam era digital yang telah mengubah wajah masyarakat secara mendasar. Dalam dunia yang semakin terkoneksi, kehidupan sehari-hari kita
telah berkaitan erat dengan teknologi.
Era ini tidak hanya menciptakan lanskap baru dalam hal ekonomi, pendidikan, dan hiburan, tetapi juga membuka jalan untuk transformasi cara kita berkomunikasi. Komunikasi yang sebelumnya terbatas oleh jarak dan waktu, kini menjadi lebih cepat, global, dan terintegrasi. Digitalisasi tidak hanya mencakup kemajuan teknologi, tetapi juga membentuk budaya dan identitas kita.
Kehadiran internet, media sosial, dan perangkat pintar mengubah paradigma
tradisional, menciptakan suatu wujud nyata di mana informasi adalah mata uang utama. Peran komunikasi menjadi semakin sentral, menjadi pengikat yang mengubah kita ke arah yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Bersamaan dengan peluang yang ditawarkan, era digital juga membawa sejumlah tantangan serius, terutama dalam hal etika berbahasa. Saat kita semakin tenggelam dalam lautan
informasi digital, penting untuk menyadari dampak dari setiap kata yang kita sampaikan, terutama di platform media sosial.
Etika berbahasa menjadi landasan
moral yang penting, menentukan kualitas diri kita, dan membentuk citra diri di media online. Pentingnya etika berbahasa dalam media sosial menjadi sorotan utama dalam menghadapi dinamika kompleks komunikasi digital.
Urgensi Edukasi Etika Bermedia Sosial
Penggunaan media sosial di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat
pesat. Berdasarkan Data Reportal, di tahun 2023, terdapat total 167 juta pengguna media sosial. Pada Oktober 2023 ada sekitar 104,8 juta pengguna Instagram di Indonesia.
Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna
Instagram terbanyak keempat di dunia. 153 juta adalah pengguna di atas usia 18 tahun, yang merupakan 79,5% dari total populasi. Sebanyak 564,1 juta pengguna Twitter di seluruh dunia per Juli 2023.
Jumlah pengguna Twitter global tersebut naik 16,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, 78,5% pengguna internet diperkirakan menggunakan paling tidak 1 buah atau akun media sosial.
Nilai ini diperkirakan akan terus bertambah di tahun-tahun yang akan datang. Dilansir dari laman web kominfo.go.id, terdapat 800.000 situs penyebar hoax dan hate speech di Indonesia pada tahun 2021. Seperti pada kasus yang menimpa Trisha Eungelica Sambo yang merupakan anak dari tersangka mantan petinggi anggota
POLRI yaitu Ferdy Sambo.
Trisha Eungelica Sambo mendapatkan ujaran negatif yang dituturkan pengguna instagram, sampai pada puncaknya saat sidang kasus tersebut. Data dan contoh kasus ini mendukung fakta bahwa saat ini edukasi akan etika bermedia soaial menjadi satu urgensi yang sangat dibutuhkan.
Dalam era digital, media sosial menjadi wahana utama bagi masyarakat Indonesia untuk berinteraksi dan menyampaikan pendapat, terutama pada media sosial instagram dan twitter.
Semakin sering kita melihat kasus-kasus ketidaketisan berbahasa yang dapat merusak dunia online.
Batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab perlu dipertanyakan.
Adapun pelanggaran etika berkomunikasi yang sering terjadi adalah pelanggaran etika dalam percakapan atau mengkritik maupun memberi saran dengan kalimat-kalimat yang menimbulkan provokasi, permasalahan hak cipta, penyebaran hoax, cyber bullying, penyebaran konten ilegal, dan kejahatan pornografi.
Perlunya pemahaman terhadap pentingnya etika dalam praktik komunikasi melalui basis jaringan yaitu media sosial. Tentunya jika komunikasi tanpa dilandasi dengan etika maka praktik komunikasi dalam bermedia sosial akan menimbulkan kekacauan. Hal ini dapat membuat masyarakat menanggung kerugian yang besar.
Media sosial perlu dijadikan
sebagai sarana dalam berdialog secara sehat dan terkontrol dengan menerapkan etika komunikasi yang baik. Salah satu aspek utama dari etika berbahasa di media sosial adalah penggunaan kata-kata yang sopan dan menghormati.
Dalam suasana yang seringkali anonim dan tidak termonitor, mudah bagi kita untuk terjerumus ke dalam perilaku yang kasar atau merendahkan. Namun, dengan mengingat bahwa di balik
layar terdapat individu dengan perasaan dan martabat, kita dapat memilih untuk
menggunakan kata-kata yang membangun dan menginspirasi.
Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kebenaran dan keakuratan informasi yang kita bagikan di media sosial. Dalam era di mana hoaks dan berita palsu dapat dengan mudah menyebar, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyebar informasi yang bertanggung jawab.
Sebelum membagikan suatu informasi, kita harus memastikan bahwa informasi
tersebut telah diverifikasi dan berasal dari sumber yang terpercaya. Selanjutnya, kita perlu menghindari penggunaan bahasa yang bersifat menghasut atau memicu konflik.
Media sosial seringkali menjadi tempat di mana perbedaan pendapat dapat
menciptakan ketegangan dan pertikaian. Namun, sebagai anggota peradaban digital yang bertanggung jawab, kita harus mampu berkomunikasi secara damai dan membangun dialog yang konstruktif.
Peran Etika Berbahasa dalam Hubungan Online
Etika berbahasa dalam media sosial memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan identitas diri seseorang secara online, dengan berkomunikasi secara sopan dan bertanggung jawab.
Individu dapat membangun reputasi positif dan memperkuat nilai-nilai yang mereka anut. Pentingnya etika berbahasa terletak pada kemampuannya mencerminkan kepribadian yang baik dan nilai-nilai positif.
Dalam memilih kata-kata dan menyampaikan pendapat, seseorang dapat menunjukkan toleransi, empati, dan kebijaksanaan. Hal ini membentuk citra diri yang baik di mata orang lain dan meningkatkan penghargaan terhadap karakter seseorang.
Selain itu, etika berbahasa juga memainkan peran vital dalam membangun hubungan online yang
sehat. Dengan berkomunikasi secara positif, seseorang dapat menjalin koneksi yang lebih mendalam, memperluas jaringan sosial, dan mendukung pertukaran ide yang
konstruktif.
Dengan menjaga etika berbahasa, individu dapat menciptakan identitas
diri yang konsisten di dunia maya. Keberlanjutan perilaku berbahasa yang baik akan membantu membentuk citra pribadi yang kuat dan meyakinkan, memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan karakter dan identitas diri seseorang dalam Lingkungan digital. (*)

























Discussion about this post