BogorOne.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor terus mempercepat langkah penanganan Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Kota Bogor. Lewat penguatan kolaborasi lintas sektoral dan pemberdayaan potensi kaum muda, angka anak putus sekolah di Kota Bogor mencatatkan tren penurunan yang signifikan.
Kepala Disdik Kota Bogor, Herry Karnadi, menyampaikan bahwa berdasarkan data terbaru, jumlah anak putus sekolah di Kota Bogor yang pada Desember lalu menyentuh 10.700-an anak, kini berhasil ditekan menjadi 9.900 anak. Artinya, ada sekitar 800 anak yang berhasil kembali mendapatkan akses pendidikan.
“Melalui rapat koordinasi teknis yang menggandeng potensi kaum muda dan berbagai instansi, kami berharap angka ATS di Kota Bogor bisa semakin menurun pada bulan-bulan berikutnya,” ujar Herry Karnadi, pada Kamis 6 Agustus 2026.
Disdik Kota Bogor menargetkan dapat menekan angka ATS hingga berkurang 2.000 sampai 3.000 anak. Target ini diiringi dengan proses verifikasi data di lapangan untuk menyisir penduduk yang telah pindah domisili atau tidak lagi ditemukan di wilayah Kota Bogor.
3 Jaring Pengaman Pendidikan dan Pembentukan Pokjar
Guna memfasilitasi anak-anak rentan agar bisa kembali mengecap pendidikan, Disdik Kota Bogor menyiapkan tiga langkah strategis atau jaring pengaman pendidikan:
- Beasiswa Sekolah Mitra (SMP): Membantu lulusan SD dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan sekolah ke SMP swasta mitra secara gratis selama 3 tahun penuh.
- Optimalisasi PKBM: Menyediakan jalur pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menggelar pembelajaran minimal tiga kali seminggu, dengan lokasi yang lebih dekat dari permukiman warga serta bebas biaya seragam.
- Pembentukan Kelompok Belajar (Pokjar): Inovasi sistem “jemput bola” berbasis lingkungan terkecil. Berbeda dengan PKBM yang membutuhkan izin bangunan dan operasional khusus, Pokjar memanfaatkan tenaga pengajar dari PKBM untuk mengajar kelompok kecil (sekitar 5 anak) dengan memanfaatkan fasilitas warga seperti Posyandu, Aula Kelurahan, hingga Kantor RW.
“Dengan pembentukan Pokjar, kita dekatkan lagi aksesnya. Anak-anak tidak perlu jauh-jauh, guru PKBM yang akan mendatangi mereka di Posyandu atau kantor RW. Kota Bogor akan melakukan langkah sampai sejauh ini agar anak-anak bisa kembali sekolah,” tegas Herry.
Tiga Faktor Utama Penyebab Anak Putus Sekolah
Herry menjelaskan, dari pemetaan di lapangan, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan anak-anak di Kota Bogor berhenti sekolah:
- Akses Pendidikan: Terkait ketersediaan sarana dan prasarana sekolah, ruang belajar, serta keterbatasan daya tampung sekolah formal.
- Tingkat Kesejahteraan Ekonomi: Kendala biaya pendukung harian seperti tidak adanya ongkos transportasi, serta ketidakmampuan membeli seragam dan tas sekolah.
- Faktor Kultural: Pola pikir sebagian orang tua yang menganggap pendidikan cukup sampai jenjang dasar (SD/SMP), atau mengarahkan anak untuk langsung bekerja membantu ekonomi keluarga maupun menikah di usia muda.
Menurut Herry, program beasiswa, PKBM, dan pembentukan Pokjar difokuskan untuk mengintervensi dua masalah utama, yakni akses pendidikan dan kesejahteraan ekonomi.
“Sementara untuk faktor kultural, ini berkaitan dengan wawasan dan pemahaman orang tua. Pemkot Bogor akan terus melakukan pendekatan secara berkelanjutan melalui sosialisasi dan edukasi penyadaran agar orang tua mendukung anak-anaknya menuntaskan pendidikan,” pungkasnya.
Reporter : Resha Bunai
Editor : Muttaqien


























Discussion about this post