BogorOne.co.id | Jakarta – Harga emas global mengalami penurunan signifikan hingga 2,5 persen setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa tarif impor tidak akan dikenakan pada emas batangan.
Pernyataan ini membuat investor menunggu rilis laporan inflasi AS yang akan menjadi indikator arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas berjangka di AS ditutup pada posisi US$ 1.340,70 per ons, turun 2,5 persen dari sebelumnya. Sementara itu, harga emas spot turun 1,2 persen menjadi US$ 1.358,33 per ons.
Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke rekor tertinggi menyusul kabar bahwa Washington akan memberlakukan tarif impor khusus terhadap emas batangan yang paling banyak diperdagangkan di AS. Namun, pernyataan Trump yang menyatakan bahwa emas tidak akan dikenakan tarif membuat sentimen pasar berubah.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, mengatakan bahwa investor kini beralih fokus pada prospek suku bunga The Fed.
“Jika angka inflasi yang dirilis nanti lebih tinggi dari perkiraan, The Fed mungkin menunda pemangkasan suku bunga yang diantisipasi pada September, yang akan menekan harga emas,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 12 Agustus 2025.
Data pekerjaan AS yang lemah belakangan ini telah memicu spekulasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September. Emas biasanya berkinerja baik saat ketidakpastian dan suku bunga rendah.
Selain emas, harga logam mulia lain juga mengalami fluktuasi. Harga perak spot turun 1,4 persen menjadi US$ 37,78 per ons, platinum turun 0,4 persen menjadi US$ 1.326,09, sementara paladium naik 2,1 persen menjadi US$ 1.149,25 per ons.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post