BogorOne.co.id | Jakarta – Maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor dinilai menjadi peringatan bagi pemerintah untuk membenahi arah pendidikan nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja, investasi pada riset, inovasi, serta kemampuan berpikir kritis sejak usia dini dianggap menjadi fondasi agar generasi muda mampu beradaptasi menghadapi berbagai krisis.
Sekretaris Dewan Pendidikan Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (DPN Dikdasmen) Abdul Kohar mengatakan pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada penguasaan materi pelajaran. Menurut dia, pola pembelajaran yang terlalu menekankan hafalan atau terpaku pada buku pelajaran justru membuat lulusan sulit beradaptasi ketika menghadapi perubahan.
“Kalau kita berani berinvestasi di riset, berinvestasi di inovasi dari awal, dari sejak dunia kanak-kanak itu dikenalkan pada proses-proses pembelajaran yang merangsang inovasi, maka situasi apa pun itu kita akan cepat beradaptasi,” kata Abdul Kohar, Rabu, 8 Juli 2026.
Ia menilai pembelajaran yang mendorong kreativitas dan inovasi sejak dini akan membentuk sumber daya manusia yang lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi, termasuk ancaman PHK yang belakangan meningkat.
Sebagai gambaran, Kohar menyinggung pengalaman sejumlah negara yang mampu bangkit dari tekanan ekonomi melalui penguatan inovasi. Sri Lanka, menurut dia, mulai pulih setelah sempat mengalami krisis ekonomi beberapa tahun lalu dengan memberi perhatian pada pendidikan dan inovasi. Sementara Iran dinilai mampu mempertahankan kemandirian di tengah embargo ekonomi berkepanjangan karena memiliki kapasitas riset dan inovasi yang kuat.
Meski mendukung penguatan pendidikan vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, Kohar mengingatkan bahwa kemampuan berpikir kritis (critical thinking) tidak boleh diabaikan. Menurut dia, keterampilan teknis harus dibarengi kemampuan menganalisis persoalan, beradaptasi, dan menciptakan solusi.
“Orang boleh sekolah di teknik, di urusan yang sifatnya sangat-sangat teknis karena itu yang dibutuhkan di lapangan kerja. Tetapi yang basic-nya itu, critical thinking-nya itu harus ada. Dan itu dari dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia menilai lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak akan mudah menyerah ketika menghadapi kehilangan pekerjaan. Sebaliknya, mereka lebih siap mencari peluang baru, berinovasi, dan menciptakan alternatif mata pencaharian.
Kohar juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang kerap dipandang sebagai ancaman bagi dunia kerja. Menurut dia, perkembangan teknologi seharusnya diposisikan sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing, bukan sekadar sumber kekhawatiran.
“Kalau kita melihatnya sisinya itu ancaman, itu selamanya akan menjadi ancaman. Tetapi kalau kita melihatnya sebagai peringatan sekaligus peluang, kita bisa menyiapkan diri. Orang cemas itu manusiawi, tetapi apakah selesai dengan kecemasan?” katanya.
Di akhir pernyataannya, Kohar menegaskan tanggung jawab negara bukan hanya menyediakan akses pendidikan, tetapi juga meningkatkan kualitas manusia melalui sistem pembelajaran yang mendorong inovasi, kepercayaan diri, dan kemampuan berpikir kritis sejak usia dini. Menurut dia, bekal tersebut menjadi modal utama agar Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global dan perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post