BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Jembatan darurat yang dibangun sebagai jalur alternatif selama proses rekonstruksi Jembatan Wika, penghubung Kecamatan Gunung Putri dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, amblas sebelum sempat digunakan masyarakat pada Minggu, 21 Juni 2026 malam.
Berdasarkan informasi di lapangan, jembatan sementara sepanjang sekitar 90 meter tersebut dibangun oleh penyedia jasa PT Tri Manunggal Karya. Infrastruktur itu disiapkan untuk memfasilitasi mobilitas pejalan kaki selama pekerjaan perbaikan Jembatan Wika berlangsung.
Namun, sebelum resmi difungsikan, sebagian konstruksi jembatan mengalami amblas. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran warga terkait aspek keselamatan apabila jembatan tetap digunakan.
Salah seorang warga, Agus, menilai kerusakan yang terjadi sebelum jembatan digunakan menunjukkan adanya persoalan yang harus segera ditangani pihak terkait.
“Kalau menurut saya ini sangat membahayakan. Jembatan ini dibuat untuk dipakai masyarakat selama Jembatan Wika diperbaiki, tapi belum sempat digunakan sudah amblas duluan,” ujar Agus, Selasa, 23 Juni 2026.
Agus berharap pihak pelaksana proyek segera melakukan perbaikan dan evaluasi menyeluruh agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
“Jangan sampai digunakan dalam kondisi yang belum aman karena akses ini sangat penting bagi warga Gunung Putri dan Klapanunggal,” katanya.
Menurut Agus, keberadaan jembatan darurat sangat dibutuhkan masyarakat karena selama proses rekonstruksi Jembatan Wika, mobilitas warga diperkirakan bergantung pada akses sementara tersebut.
Karena itu, warga meminta pemerintah dan kontraktor pelaksana segera melakukan pengecekan teknis untuk mengetahui penyebab amblasnya jembatan serta memastikan konstruksi yang dibangun layak dan aman digunakan.
Sementara itu, Kepala Desa Tlajung Udik, Yusuf Ibrahim, menilai pembangunan jembatan sementara perlu dievaluasi lebih mendalam apabila akan dilanjutkan kembali.
Ia menekankan pentingnya analisis teknis yang lebih matang guna mencegah kejadian serupa terulang pada masa mendatang.
Menurut Yusuf, pembangunan jembatan darurat tersebut merupakan respons atas aspirasi masyarakat yang menginginkan akses penghubung selama Jembatan Wika diperbaiki. Pada tahap awal, warga berharap jalur sementara itu dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Jembatan sementara itu memang permintaan warga. Saya mengusahakan agar ada akses karena warga mendesak. Awalnya ingin bisa dilewati motor, tetapi tidak disanggupi, akhirnya dibuatkan minimal untuk pejalan kaki,” jelas Yusuf.
Namun, karena keterbatasan yang ada, jembatan akhirnya dibangun khusus untuk pejalan kaki sebagai solusi sementara kebutuhan mobilitas warga.
Meski demikian, Yusuf menilai kontraktor juga berada dalam situasi yang cukup sulit karena pembangunan jembatan dilakukan sebagai respons atas kebutuhan masyarakat akan akses penghubung alternatif.
Menurut dia, hal terpenting saat ini adalah memastikan keselamatan pengguna sebelum jembatan difungsikan.
“Jembatan ini dibangun untuk kepentingan masyarakat luas, sehingga faktor keamanan harus menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post