BogorOne.co.id | Parung – Kampung Silat Jampang (KSJ) Dompet Dhuafa mengadakan acara sarasehan, bedah buku “The Power Of Silat”, dan pembagian 100 parsel kepada para pelestari budaya.
Kegiatan berlangsung di Kawasan Terpadu Zona Madina, Parung, Kabupaten Bogor, Sabtu (24/04/21).
Acara tersebut dihadiri oleh 150 peserta yang meliputi Bapak Pesilat Dunia, Pesilat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor, dan 36 Dewan Guru KSJ.
Diawali dengan bedah buku, kemudian dilanjutkan dengan pembagian 100 parsel kepada pelestari budaya. Sarasehan silat yang telah terselenggara diharapkan mampu mengurai permasalahan dan pengembangan perguruan silat di Kabupaten Bogor.
Selain itu, pada acara kali ini menghasilkan sebuah rekomendasi untuk mengawal pengembangan silat di Kabupaten Bogor dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Dalam sambutannya, Direktur Dakwah Budaya & Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa K.H Ahmad Shonhaji S.Ag MM mengatakan, silat itu bukan hanya beladiri semata. Akan tetapi juga mengajarkan nilai kehidupan (akhlakul karimah).
“Harus diakui pula bahwa dunia persilatan merupakan sebuah ikhtiar anak bangsa untuk menjaga pertahanan dan keamanan bangsa,” ucapnya.
Ditempat yang sama, Bapak Silat Dunia yang telah berkeliling hampir 40 negara untuk membangun pencak silat di ranah dunia Mayjend (Purn) TNI Dr. (H.C) H. Eddie Mardjuki Nalapraya mengungkapkan, dirinya memiliki harapan bagi generasi penerus dan menitipkan agar pencak silat yang dibangun tidak hanya olahraganya namun silat-silat tradisional tetap dilestarikan.
“Kesejahteraan pelatih-pelatih silat harus diperhatikan, minimal ada uang transportasi untuk para pelatih untuk mengapresiasi jerih payah mereka dalam melestarikan pencak silat,” ujarnya.
Sementara, Ketua Kampung Silat Jampang Ustadz Herman Budianto M.Si., menambahkan, dirinya memiliki pesan melalui bukunya bahwa buku ini diharapkan mampu membangun silat sebagai budaya bangsa dan mengantarkan menjadi pesilat yang sukses, berdaya, berakhlak mulia, serta bermanfaat.
Masih kata Herman, para pesilat juga harus siap dalam menghadapi dunia persilatan kampung global, artinya banyak sekali tantangan dan rintangan ke depannya.
“Misalkan ada orang luar negeri mau belajar silat, tapi pelatihnya tidak bisa bahasa inggris, ini akan menjadi suatu kendala. Maka dari itu dengan ditetapkannya silat menjadi warisan budaya dunia, kita harus mempersiapkan segalanya dari sekarang agar kendala-kendala seperti itu tidak ada lagi,” pungkasnya.
Acara pun diakhiri dengan pembagian 100 parsel kepada para pelestari budaya sebagai bentuk apresiasi dari Dompet Dhuafa atas semangat dan keikhlasan para pelestari budaya dalam melestarikan budaya bangsa Indonesia.
Dompet Dhuafa diharapkan untuk terus mampu menjadi sentra pengembangan literasi pencak silat nasional dan terus melakukan pendampingan, pengembangan, serta pembinaan perguruan silat sebagai bagian dari kekayaan Bangsa Indonesia. (Fik)





























Discussion about this post