BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Udara pegunungan yang lembap dan sejuk langsung menyergap begitu kaki melangkah masuk ke kawasan Kedai Kopi Ki Demang. Aroma kopi yang baru menetas dari alat seduh bercampur dengan hamparan kebun di sekelilingnya. Di kejauhan, Gunung Batu berdiri seperti latar besar yang menjaga ritme harian Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Suasananya menghadirkan keheningan pedesaan yang tak ditemukan di kota.
Kedai Kopi Ki Demang bukan tempat singgah biasa. Ia tumbuh dari tanah yang sama dengan para petani yang merawatnya, dari mimpi bersama masyarakat desa yang ingin mengenalkan kopi mereka ke dunia luar. Berdiri sejak 2018, kedai ini membentang di lahan dua hektare, sekitar 4.000 meter persegi menjadi ruang berkumpul, sementara 5.000 meter persegi lain ditanami sekitar 400 pohon kopi robusta.
Di kebun itu, pengunjung dapat mengikuti jejak perjalanan biji kopi: dari perawatan pohon, proses pemetikan, pengolahan, hingga akhirnya hadir sebagai minuman hangat di cangkir. Kebun ini sekaligus etalase hidup, tempat orang bisa melihat bagaimana secangkir kopi yang sederhana menyimpan perjalanan yang panjang.
Di balik perjalanan itu ada Andika Aditisna. Lelaki berkacamata ini tidak hanya pemilik kedai, tetapi juga ketua kelompok tani Desa Sukaharja. Kecintaannya pada kopi lokal membuatnya ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan para petani dengan para penikmat kopi.
“Usaha kafenya dimulai tahun 2018 dengan fasilitas yang terbatas. Kita ingin mengolah kopi sendiri sampai bisa dinikmati oleh khalayak umum,” ujar Andika, belum lama ini.
Letak kedai di dataran menengah, sekitar 675 mdpl menjadikan robusta sebagai varietas utama. Seluruh kopi yang disajikan diproduksi mandiri dari kebun Ki Demang. Tak ada pasokan dari luar. Mulai dari penanaman, pemetikan, pengolahan, hingga penyajian dilakukan kelompok tani sendiri.
“Dari awal kita ingin kopi kita diolah sendiri dan bisa dinikmati masyarakat. Kita bangga kopi Sukamakmur bisa dikenal,” katanya.
Andika menuturkan, kapasitas produksi saat ini sudah mencukupi kebutuhan kedai dan permintaan mitra. Kopi yang digunakan adalah grade A, sehingga proses sortir lebih ketat. Sementara biji yang tidak lolos standar dijual sebagai kopi asalan ke pabrik besar atau pembeli lain.
Lebih jauh ia berkisah bahwa kopi sudah lama tumbuh di wilayah Sukamakmur, bahkan sejak masa kolonial. Pohon-pohon kopi menyebar alami, dibawa burung, luwak, atau manusia dari kebun ke kebun. Kopi pun menjadi bagian lanskap dan ingatan kolektif warga.
Bagi Andika dan kelompok tani, kopi bukan sekadar soal rasa. Ia membuka jalan bagi pemberdayaan. Hadirnya Ki Demang menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, mulai dari petani hingga barista.
“Hampir semua pegawai orang sini asli. Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Gak semua anak petani mau jadi petani, jadi kita kasih pilihan pekerjaan di sekitar kopi,” ujarnya.
Meski jumlah pengunjung terus bertambah, Andika tak berencana membuka cabang di luar Sukamakmur. Baginya, tempat ini adalah rumah, ruang belajar, ruang tumbuh, sekaligus sumber kehidupan yang mesti dijaga.
Pengembangan ke depan bukan memperluas kedai, melainkan memperkaya fasilitas edukasi. Andika berencana membuat mini farmer dan etalase pembelajaran budidaya kopi agar pengunjung bisa mengenal proses kopi lebih dekat, dari biji hingga menjadi sajian di cangkir.
Bagi banyak orang yang datang, Ki Demang adalah jeda yang menyenangkan. Hamparan Gunung Batu, udara sejuk, kebun hijau yang merambat hingga lereng, membuat tempat ini menjadi persinggahan yang menenteramkan.
“Rata-rata pengunjung ke sini untuk ngadem, healing, lihat suasana yang berbeda dari kota,” kata Andika.
Dan memang begitu adanya. Duduk di teras kedai, menatap langit yang bersih, sambil menyeruput robusta hasil kebun sendiri, menghadirkan kesan seolah pulang ke tempat yang selalu dirindukan.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien





























Discussion about this post