BogorOne.co.id | Malang – Pohon dewandaru yang tumbuh di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, kerap dikaitkan dengan mitos pesugihan. Namun pengelola kawasan dan pemerintah desa setempat membantah adanya praktik pesugihan di lokasi tersebut.
Pohon dewandaru tumbuh di dua titik utama kawasan Gunung Kawi, yakni di area Keraton Gunung Kawi dan Pesarean Gunung Kawi. Di kedua tempat tersebut, pohon ini dianggap sebagai simbol keberuntungan oleh para peziarah dan pengunjung.
Di Keraton Gunung Kawi, pohon dewandaru berdiri di samping makam Toenggol Manik Djaja Ningrat dan Toenggol Wati. Pohon ini diberi penanda khusus dengan kain bermotif kotak-kotak ala papan catur.
Jono, seorang pemandu wisata di keraton, menyebut bahwa pohon tersebut dipercaya membawa berkah dan keberuntungan.
“Biasanya tujuan apa ada yang di sekitar pohon, katanya mengundang keberkahan, keberuntungan,” ujarnya kepada wartawan belum lama ini.
Sementara di area Pesarean Gunung Kawi, pohon dewandaru tumbuh tak jauh dari Pesanggrahan yang sering dijadikan tempat berdoa para pelaku spiritual. Menurut cerita warga, pohon ini berasal dari tongkat milik Eyang Djoego yang ditancapkan ke tanah.
“Dari ceritanya, pohon dewandaru itu dari tongkat Eyang Djoego yang ditancapkan. Sering buahnya dinantikan karena dipercaya membawa keberuntungan, berbuah biasanya pada Bulan Desember,” kata Kadir, pemandu wisata di pesarean.
Kadir menambahkan, para peziarah biasanya duduk dan berdoa di bawah pohon dewandaru. Kepercayaan ini diduga menjadi asal muasal munculnya anggapan adanya praktik pesugihan di kawasan tersebut.
Namun, Kepala Desa Wonosari, Suwito, menegaskan bahwa tidak ada praktik pesugihan di kawasan Gunung Kawi. Menurutnya, aktivitas yang dilakukan warga dan pengunjung sebatas ziarah dan doa.
“Di sini kan ziarah, di makam Mbah Eyang Jugo. Kalau setelah ziarah, ya ada yang duduk-duduk di dewandaru itu, ngalap berkah itu,” ujarnya.
Ia juga menampik adanya ritual pesugihan seperti yang sering disebutkan oleh rumor luar. “Kalau ada orang rumor pesugihan ya di luar seperti itu. Tapi nggak ada namanya pesugihan tumbal, tahu seperti itu ya mohon maaf,” tegasnya.
Hal senada disampaikan juru bicara pengelola Pesarean Gunung Kawi, Alie Zainal Abidin. Ia memastikan tidak ada fasilitas atau dukungan terhadap praktik-praktik ritual di luar kegiatan ziarah.
“Pihak pengelola Pesarean itu tidak pernah memfasilitasi, memberikan arahan bagi kelompok-kelompok atau orang-orang tertentu menjalankan ritual-ritual tertentu, dengan domba dan sebagainya apapun istilahnya yang saya sebut mengerikan,” kata Alie.
Ia menegaskan, kawasan Pesarean Gunung Kawi difokuskan pada kegiatan wisata religi dan budaya.
“Pihak pengelola tidak pernah memberikan fasilitas ke orang-orang ataupun kelompok-kelompok yang melakukan praktik-praktik semacam itu,” pungkasnya.

























Discussion about this post