BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menutup tiga jalur pendakiannya mulai 13 Oktober. Bukan karena bencana. Bukan pula karena cuaca ekstrem. Melainkan demi satu tujuan besar: mewujudkan kawasan pendakian bebas sampah di tahun 2025.
Jalur Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana, tiga akses favorit menuju puncak, akan sepi untuk sementara. Melansir kompas.com, Minggu, 12 Oktober 2025, keputusan ini mengikuti Memorandum Direktur Jenderal KSDAE yang mengatur ulang tata kelola pendakian. Dalam masa penutupan, akan ada aksi bersih-bersih massal, evaluasi sistem, hingga pembenahan menyeluruh.
Gunung Gede Pangrango memang primadona. Lokasinya dekat Jakarta. Pemandangannya memesona. Flora dan fauna endemiknya langka. Pendaki dari Jakarta, Bogor, Bandung, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Sukabumi datang silih berganti sepanjang tahun.
Tapi popularitas itu datang dengan harga. Sampah menumpuk di jalur pendakian. Ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terancam. Keluhan pengunjung pun kerap muncul.
Tiga hal menjadi fokus perbaikan. Pertama, menuntaskan masalah sampah. Petugas taman nasional akan bekerja bersama komunitas pecinta alam, akademisi, hingga penyelenggara pendakian. Sampah diangkut, dipilah, diolah.
Kedua, memperbaiki tata kelola. Prosedur perizinan ditinjau ulang. Basecamp ditata kembali. Fasilitas dasar ditingkatkan. Sistem SIAP GEPANG, platform digital pengelolaan pendakian diperkuat.
Ketiga, merevitalisasi layanan. Basis data pendaki diperbarui. Pemandu dan petugas dilatih. Program “Pendaki Cerdas” diluncurkan dengan semboyan: Peduli Alam, Peduli Sampah.
Bagi calon pendaki yang sudah mendaftar lewat booking.gedepangrango.org, Balai Besar TNGGP menjanjikan informasi lanjutan via email. Ada opsi pengembalian dana atau penjadwalan ulang sesuai ketentuan.
“Ini bukan penundaan,” tulis pihak pengella dalam keterangan resmi. “Ini investasi untuk pendakian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.”
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post