BogorOne.co.id | Kota Bogor – Pemerintah Kota Bogor mengkaji penambahan alat pendeteksi banjir atau Early Warning System (EWS) untuk memperkuat sistem peringatan dini di wilayah rawan banjir. Langkah itu dilakukan menyusul tingginya intensitas hujan yang masih kerap memicu banjir lintasan di sejumlah titik di Kota Bogor.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan saat ini Kota Bogor baru memiliki satu alat EWS bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipasang di wilayah Panaragan.
“Kita dapat bantuan dari BNPB baru ada di Panaragan nama alatnya EWS,” kata Jenal kepada wartawan di Balaikota Bogor, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut dia, keberadaan alat pendeteksi banjir penting untuk memberikan informasi dini kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan yang kerap terdampak banjir.
“Saya rasa untuk sungai dan kali-kali besar yang sering banjir memang harus. Supaya mengetahui potensi banjir yang akan datang, dan warga bisa antisipasi,” ujarnya.
Namun, rencana penambahan alat tersebut masih terkendala anggaran. Jenal mengatakan harga perangkat EWS cukup mahal sehingga perlu pembahasan lebih lanjut bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Tapi kami akan coba rapatkan dengan BPBD. Kalau harganya masih terjangkau kita coba bahas untuk pengadaan alat banjir lebih dini,” kata dia.
Kota Bogor hingga kini masih menghadapi persoalan banjir akibat tingginya curah hujan. Pemkot mencatat rata-rata intensitas hujan harian mencapai 120 milimeter, meningkat dibanding kapasitas perencanaan drainase sebelumnya yang berada di angka 65 milimeter.
Selain faktor cuaca, berkurangnya lahan terbuka hijau juga disebut memperburuk kondisi banjir. Luas lahan sawah di Kota Bogor disebut terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir sehingga kemampuan tanah menyerap air semakin berkurang.
“Lahan sawah dulu tahun 2009 saat saya pertama kali membuat Perda LP2B masih sekitar 900 hektare, sekarang tinggal 65 hektare,” ujar Jenal.
Kondisi itu membuat aliran air hujan lebih banyak masuk ke saluran drainase. Saat drainase tidak mampu menampung debit air, banjir pun terjadi di sejumlah titik.
“Tapi drainasenya mampet, jadi banjir. Kita enggak mencari siapa yang salah, tapi faktor banjir hari ini banyak dan butuh partisipasi semua stakeholder untuk menyelesaikan itu,” kata Jenal.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post