BogorOne.co.id – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama mitra kerja DPR RI menggelar kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana di Travel Ibnu Yaman, Cimande, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 18 Oktober 2026 kemarin.
Kegiatan ini menekankan pentingnya pembangunan keluarga berkualitas dan kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan stunting sejak dini.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Anggota Komisi IX DPR RI drh. H. Achmad Ru’yat, M.Si.; Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Jawa Barat, Della Aryati, S.Pd., M.A.P.; serta Munandar Ahmad, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor.
Dalam sambutannya, Achmad Ru’yat, menegaskan bahwa Program Bangga Kencana memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar pengendalian penduduk. Program ini juga berorientasi pada pembangunan keluarga berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, penguatan ketahanan keluarga, serta pembentukan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
“Program Bangga Kencana bukan hanya berbicara mengenai pengendalian penduduk semata, namun lebih luas lagi mengenai pembangunan keluarga yang berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, pembinaan ketahanan keluarga, serta upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujar Achmad Ru’yat.
Ia menyampaikan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Menurutnya, keluarga yang kuat akan menjadi dasar dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, sinergi antara pemerintah, BKKBN, mitra kerja, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat diperlukan agar program yang dijalankan memberikan manfaat nyata.
Achmad Ru’yat juga menyoroti berbagai tantangan pembangunan, mulai dari kesehatan reproduksi, stunting, ketahanan keluarga, hingga peningkatan kualitas generasi muda. Ia berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat menghasilkan masukan dan gagasan strategis untuk memperkuat pelaksanaan Program Bangga Kencana agar lebih efektif dan tepat sasaran.
“Saya berharap melalui kegiatan sosialisasi teknis ini dapat lahir berbagai masukan, gagasan, serta langkah-langkah strategis yang dapat memperkuat implementasi Program Bangga Kencana agar semakin efektif dan tepat sasaran,” katanya.
Sementara itu, Della Aryati, S.Pd., M.A.P. memaparkan transformasi kelembagaan dari BKKBN menjadi Kemendukbangga. Menurutnya, transformasi tersebut memperkuat peran pemerintah dalam mengintegrasikan pembangunan kependudukan dan pembangunan keluarga melalui pendekatan sepanjang siklus kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan keluarga tidak hanya berfokus pada pengendalian kelahiran, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan keluarga, serta penyiapan generasi yang berkualitas.
Dalam pemaparannya, Della menekankan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari sebelum perkawinan, masa kehamilan, kelahiran, hingga pengasuhan anak. Remaja juga menjadi kelompok strategis karena merupakan calon orang tua sekaligus generasi penerus pembangunan.
Upaya pencegahan stunting, lanjutnya, dapat dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan pemeliharaan kesehatan remaja, pencegahan anemia khususnya pada remaja putri, serta peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi.
Selain itu, penting untuk mendorong perencanaan perkawinan dan kehamilan pada waktu yang tepat, memastikan ibu memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi selama kehamilan, serta memenuhi kebutuhan gizi dan pengasuhan anak secara optimal.
Pada kesempatan yang sama, Munandar Ahmad, perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor, menyoroti peran Kader Desa Penggerak Keluarga Pencegah Stunting dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan kesehatan keluarga.
Menurut Munandar, kader memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara program pemerintah dan masyarakat. Peran tersebut diwujudkan melalui edukasi, pendampingan, pemantauan, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pola hidup sehat, pemenuhan gizi, dan pengasuhan yang tepat bagi ibu dan anak.
Kegiatan kader juga diarahkan pada pencegahan stunting sejak dini, mulai dari masa remaja, sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga anak berusia di bawah lima tahun. Edukasi yang diberikan mencakup pentingnya pemeriksaan kehamilan, konsumsi makanan bergizi, pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sesuai kebutuhan anak, imunisasi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta penerapan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Munandar menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak secara berkelanjutan. Keluarga, masyarakat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bekerja sama untuk membangun kesadaran serta mendorong perubahan perilaku di lingkungan masyarakat.
Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana bersama mitra kerja ini, diharapkan pemahaman masyarakat mengenai pembangunan keluarga berkualitas dan pencegahan stunting semakin meningkat. Penguatan peran kader serta kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mendukung terciptanya keluarga yang sehat, sejahtera, dan mampu mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas.
Editor : Muttaqien






















Discussion about this post