BogorOne.co.id | Magapura – Ayunan tradisional berbahan kayu di Banjar Alangkajeng, Mengwi, Badung, Bali, menjadi salah satu daya tarik wisata saat libur Hari Raya Galungan. Wahana permainan sederhana tersebut ramai dikunjungi anak-anak dan keluarga karena menawarkan sensasi berbeda dibandingkan permainan modern.
Sehari setelah Galungan, masyarakat Hindu di Bali umumnya memanfaatkan waktu untuk bersilaturahmi maupun berwisata bersama keluarga. Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi yakni wahana ayunan tradisional di dekat kawasan wisata Taman Ayun, Mengwi.
Permainan ini mengusung konsep serupa bianglala berukuran kecil yang seluruhnya terbuat dari kayu. Ayunan digerakkan secara manual oleh operator tanpa menggunakan mesin sehingga menghasilkan putaran yang semakin cepat dan memacu adrenalin pengunjung.
Meski tergolong permainan tradisional, pengelola tetap memperhatikan faktor keamanan. Setiap kursi ayunan dilengkapi sabuk pengaman agar anak-anak dapat bermain dengan aman di bawah pengawasan orang tua.
Pengelola wahana, Putu Bagian, mengatakan ayunan tradisional tersebut hanya dibuka pada momen hari besar tertentu di Bali.
“Wahana ini dibuka setiap Hari Raya Galungan, Kuningan, Umanis Nyepi dan Tahun Baru. Kebanyakan yang datang ke sini anak-anak dari daerah sini dan luar daerah di Bali yang sedang berlibur ke objek wisata Taman Ayun,” kata Putu Bagian kepada wartawan, Jumat (19/6/2026).
Ia mengatakan, harga tiket untuk menikmati wahana tersebut sebesar Rp 5.000 per orang. Dalam sehari saat musim liburan, jumlah pengunjung dapat mencapai 500 orang.
“Per orang hanya dikenakan tiket lima ribu rupiah. Dalam sehari di momen liburan bisa mencapai lima ratus orang yang menikmati wahana ayunan tradisional ini,” ujarnya.
Salah seorang pengunjung, I Kadek Gandhi, mengaku merasakan pengalaman baru saat mencoba wahana tersebut.
“Ya, ini baru pertama kalinya naik ayunan tradisional, rasanya serem, tegang, campur aduk, enggak mau naik lagi,” katanya.
Keberadaan wahana ayunan tradisional ini menjadi alternatif hiburan keluarga sekaligus sarana mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di tengah maraknya permainan digital. Selain menjadi hiburan, wahana tersebut juga dinilai turut menjaga pelestarian budaya lokal Bali.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post