• INFO IKLAN
  • Redaksi
  • VISI dan MISI
  • Kode Etik Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Cyber
  • Kebijakan Privasi
Selasa, September 1, 2026
bogorone.co.id
  • Login
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
bogorone.co.id
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
Bogor One
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Prof Didik J. Rachbini: NU Jangan Jadi Objek Politik, Pesantren Harus Jadi Motor Kemajuan

Redaksi by Redaksi
1 September 2026
in NASIONAL
0
Prof Didik J. Rachbini: NU Jangan Jadi Objek Politik, Pesantren Harus Jadi Motor Kemajuan

Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D.,

31
SHARES
31
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BogorOne.co.id | Jakarta — Nahdlatul Ulama (NU) dinilai perlu menjadikan momentum pasca-Muktamar sebagai titik balik untuk memperkuat agenda modernisasi pesantren dan pemberdayaan masyarakat nahdliyin.

Reorientasi tersebut dinilai penting agar kekuatan sosial NU tidak berhenti sebagai modal politik dalam setiap kontestasi kekuasaan, tetapi berkembang menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, teknologi, dan pembangunan masyarakat.

Pandangan itu disampaikan Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., dalam catatan reflektifnya mengenai arah ekonomi politik NU dan masa depan pesantren.

Menurut Didik, pesantren sejak lama memiliki posisi strategis dalam perjalanan transformasi sosial Indonesia. Gagasan modernisasi pesantren bahkan telah muncul sejak sekitar empat hingga lima dekade lalu, ketika sebagian besar pesantren dan masyarakat pedesaan masih menghadapi persoalan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan rendahnya keterampilan.

BERITA LAINNYA

Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif

Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif

1 September 2026
Kecam Aksi Oknum Wartawan di SD Sukabumi, PWI Jabar Dukung Polisi Proses Pidana

Kecam Aksi Oknum Wartawan di SD Sukabumi, PWI Jabar Dukung Polisi Proses Pidana

1 September 2026
Stasiun Karet

Penutupan Stasiun Karet Bikin Penumpang KRL Harus Berjalan Lebih Jauh

1 September 2026
karhutla

Karhutla Ganggu Habitat, Orang Utan Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Perkebunan Warga

31 Agustus 2026

Salah satu upaya yang pernah dirintis datang dari Dawam Rahardjo dan LP3ES dengan keterlibatan Gus Dur. Program tersebut diarahkan untuk mendorong modernisasi pesantren dengan satu gagasan mendasar: kemajuan pesantren akan menjadi bagian dari kemajuan Indonesia.

“Ide dasar modernisasi pesantren, jika berhasil memajukan pesantren maka Indonesia akan maju dan modern,” ujar Didik.

Pesantren Sudah Berubah, Ketimpangan Belum Berakhir

Menurut Didik, perkembangan pesantren dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan perubahan besar.

Pesantren tidak lagi identik dengan lingkungan yang tertinggal. Mobilitas sosial warga pesantren meningkat, kelas menengah tumbuh, sementara dari lingkungan pesantren dan masyarakat nahdliyin semakin banyak lahir intelektual, doktor hingga guru besar.

“Kini setelah setengah abad pesantren sudah berkemajuan sangat luar biasa. Mobilitas vertikal masyarakat pesantren berjalan sangat pesat. Kelas menengah di pesantren meningkat luar biasa, kaum intelektual tumbuh cepat di pesantren dan banyak doktor dan guru besar tumbuh dari lingkungan pesantren,” katanya.

Namun perubahan tersebut, menurutnya, belum sepenuhnya menyentuh seluruh lapisan masyarakat pesantren.

Masih terdapat kelompok yang tertinggal dan menghadapi ketimpangan sosial-ekonomi. Karena itu, modernisasi pesantren dinilai tetap relevan, tetapi tidak boleh menggunakan pendekatan lama.

Agenda berikutnya harus diarahkan untuk membawa pesantren dari sekadar lembaga pendidikan menjadi pusat penggerak perubahan masyarakat.

NU Jangan Hanya Menjadi Objek Politik
Didik juga mengingatkan agar masyarakat nahdliyin tidak terus ditempatkan sebagai objek politik yang hanya dibutuhkan ketika kontestasi elektoral berlangsung.

Menurutnya, besarnya basis sosial NU justru memberi organisasi tersebut kekuatan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat tanpa harus selalu bergantung pada akses kekuasaan.

“Tidak bisa lagi massa NU diposisikan sebagai obyek politik praktis untuk mengais suara dan mendukung elit-elitnya yang berkiprah, bergantung dan bergelantungan di kekuasaan,” tegasnya.

Dalam konteks hubungan NU dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Didik berharap keduanya dapat membangun kerja sama yang lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Sebaiknya elit NU dan PKB bersatu dengan solid untuk kepentingan masyarakatnya dengan menghindari politik praktis jangka pendek kepentingan orang per orang dan segelintir kelompok kecil di dalamnya,” ujarnya.

Ia menilai jaringan sosial NU yang luas merupakan modal besar untuk mendorong pembangunan masyarakat melalui berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, teknologi hingga pemberdayaan ekonomi.

Dengan pendekatan tersebut, energi sosial dan politik NU dapat diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat di tingkat akar rumput.

Pesantren Harus Naik Kelas

Didik menilai modernisasi pesantren kini harus memasuki fase baru.

Bila pada masa lalu modernisasi lebih diarahkan untuk mengatasi persoalan pendidikan, kemiskinan dan keterampilan, maka tantangan sekarang jauh lebih luas.

Pesantren, kata dia, memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus ruang pengembangan teknologi, ketahanan pangan, kewirausahaan dan pembangunan komunitas.

“Kini setelah pesantren mengalami banyak kemajuan, kontekstualisasi peran pesantren sudah seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi, teknologi, kemandirian pangan, dan pemberdayaan masyarakat sekitarnya,” katanya.

Pandangan tersebut menempatkan pesantren bukan hanya sebagai institusi keagamaan, tetapi sebagai infrastruktur sosial yang memiliki kemampuan membangun lingkungan sekitarnya.

Konsep community development pun dinilai relevan untuk memperluas manfaat pesantren kepada masyarakat di luar lingkungan pendidikan internal.

Pendidikan Pesantren Perlu Diperluas

Transformasi tersebut, lanjut Didik, harus dimulai dari sistem pendidikan pesantren.
Menurutnya, pendidikan pesantren perlu terus memperluas cakupan keilmuan. Pengajaran fikih, Al-Qur’an dan hadis tetap menjadi fondasi, tetapi perlu diperkuat dengan ilmu yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan perubahan zaman.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan wawasan melalui pemahaman terhadap ayat-ayat kauniah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dipelajari melalui alam dan kehidupan.

Dengan perluasan keilmuan tersebut, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kedalaman agama sekaligus kompetensi dalam menghadapi perubahan sosial, ekonomi dan teknologi.

“Pesantren telah dan harus terus menjadi mesin mobilitas sosial dan menjadi kanal mobilitas vertikal,” kata Didik.

Menurut dia, keberhasilan pesantren selama puluhan tahun dalam mendorong mobilitas sosial merupakan modal yang tidak boleh disia-siakan.

Transformasi pendidikan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kelas menengah, memperbesar basis intelektual, sekaligus menciptakan sumber daya manusia yang mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional.

Dari Penerima Pembangunan Menjadi Pelaku
Didik kemudian merumuskan agenda yang lebih besar bagi NU pasca-Muktamar.
Ia menilai organisasi tersebut perlu mendorong perubahan posisi pesantren dari penerima manfaat pembangunan menjadi pelaku utama pembangunan.

“Agenda elit NU ke depan adalah membawa pesantren dari ketertinggalan menuju keunggulan, dari penerima pembangunan menjadi pelaku pembangunan, dan dari kekuatan sosial menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, dan teknologi yang menentukan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Dalam kerangka itu, politik tidak harus ditinggalkan sepenuhnya, tetapi ditempatkan sebagai instrumen untuk memperbesar manfaat pembangunan bagi masyarakat.

Kekuatan politik dan sosial NU, menurut Didik, seharusnya digunakan untuk mempercepat modernisasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan warga nahdliyin.

“Agenda NU yang utama seharusnya bukan di wilayah politik praktis kekuasaan, tetapi konsolidasi pembangunan, menjadikan kekuatan sosial dan politik yang dimiliki untuk mempercepat transformasi pesantren dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nahdliyin,” katanya.

Tantangan NU Pasca-Muktamar

Gagasan tersebut pada akhirnya menempatkan NU pada tantangan strategis setelah Muktamar: apakah energi organisasi akan lebih banyak terserap dalam dinamika politik kekuasaan atau dikonsolidasikan untuk memperkuat basis sosialnya.

Bagi Didik, pilihan kedua lebih penting.
Pesantren tidak semestinya dipandang hanya sebagai warisan sejarah yang harus dipertahankan, tetapi sebagai aset sosial yang dapat menjadi fondasi masa depan Indonesia.

Dengan jaringan akar rumput yang luas dan modal sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun, NU memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan, ekonomi, teknologi, ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.

Jika agenda tersebut konsisten dijalankan, modernisasi pesantren bukan lagi sekadar proyek pendidikan. Ia dapat menjadi strategi jangka panjang untuk mengubah kekuatan sosial NU menjadi kekuatan pembangunan yang nyata dan berkelanjutan.

Tags: Nahdlatul UlamaNU

Related Posts

Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif
NASIONAL

Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif

1 September 2026
Kecam Aksi Oknum Wartawan di SD Sukabumi, PWI Jabar Dukung Polisi Proses Pidana
NASIONAL

Kecam Aksi Oknum Wartawan di SD Sukabumi, PWI Jabar Dukung Polisi Proses Pidana

1 September 2026
Stasiun Karet
NASIONAL

Penutupan Stasiun Karet Bikin Penumpang KRL Harus Berjalan Lebih Jauh

1 September 2026
karhutla
NASIONAL

Karhutla Ganggu Habitat, Orang Utan Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Perkebunan Warga

31 Agustus 2026
Nagekeo
NASIONAL

Pemkab Nagekeo Pangkas Masa Tanggap Darurat Gempa dari 90 Jadi 30 Hari

31 Agustus 2026
Terjerat Lingkaran Setan Digital: Judol + Pinjol, Ini 3 Tanda dan 4 Cara Keluarnya
NASIONAL

Terjerat Lingkaran Setan Digital: Judol + Pinjol, Ini 3 Tanda dan 4 Cara Keluarnya

30 Agustus 2026
Next Post
Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif

Eks Kepala BAIS Soleman Ponto: Wakil Ketua Ombudsman Tak Dapat Ditetapkan Menjadi Ketua Definitif

Discussion about this post

BERITA POPULER

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

9 April 2021
Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

8 April 2023
STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

30 Mei 2022
KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

16 September 2024
BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

BAZNAS Kota Bogor dan Pemkot Bogor Berbagi Kebahagiaan Ramadan untuk 400 Pekerja Layanan Publik

16 Maret 2026

DARI REDAKSI

Dompet Dhuafa Catat Penghimpunan Tumbuh 11,14 Persen

Dompet Dhuafa Catat Penghimpunan Tumbuh 11,14 Persen

17 Mei 2021
mayat wanita paruh baya

Mayat Wanita Paruh Baya Ditemukan di Kamar Mandi Umum Alun-alun Kota Bogor

20 Januari 2026
Polemik Lahan, Ahli Waris Ontrog Kantor Pemasaran Pakuan Hill

Polemik Lahan, Ahli Waris Ontrog Kantor Pemasaran Pakuan Hill

16 Januari 2024
29 kawasan kumuh

Progres Alun-Alun Tegar Beriman Capai 40 Persen, Dikebut Jelang HJB

5 April 2026

Tentang Kami

bogorone.co.id

Selamat Datang di Bogorone.co.id,
Portal Berita yang dikelola oleh PT BOGOR ONE NET MEDIA - SK Kemenkumham RI
No. AHU-0072.AH.01.02.TAHUN 2016

Telah diverifikasi oleh

Dewan Pers

Sertifikat Nomor 1422/DP-Verifikasi/K/X/2025

Info Iklan – Redaksi – Visi dan Misi – Kode Etik Wartawan – Kode Perilaku Perusahaan – Pedoman Media Cyber – Kebijakan Privasi

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
', enable_page_level_ads: true });