BogorOne.co.id | Jakarta – Kisah inspiratif datang dari Fadhilah Pratama (12), siswa Sekolah Rakyat (SR) di Sentra Handayani, Jalan PPA Nomor 1, Cipayung, Bambu Apus, Jakarta Timur. Meski hidup dengan keterbatasan fisik dan tanpa kehadiran orang tua kandung, Fadhil, sapaan akrabnya, tetap semangat bersekolah dan membantu sang nenek.
Dikutip dari beritasatu.com, sejak kecil, Fadhil tinggal bersama neneknya, Rabiyem (63), di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Ayahnya meninggal saat Fadhil berusia sekitar lima tahun, sementara ibunya kini tinggal di Sukabumi bersama suami barunya.
“Orang tuanya yang perempuan anak saya, nikah dan bapaknya meninggal. Punya anak satu, Fadhilah. Emaknya nikah lagi. Fadil masih kecil, belum sekolah, bapaknya meninggal. Umur ya sekitar lima tahun,” kata Rabiyem, Senin (14/7/2025).
Saat duduk di bangku kelas dua SD, Fadhil mengalami kecelakaan saat bermain di pinggir jalan tol. Kakinya terluka parah akibat benang layangan yang terseret mobil boks. Fadhil harus menjalani dua kali operasi, namun otot pergelangan kakinya tidak pulih sepenuhnya, membuatnya pincang hingga sekarang.
“Kakinya itu kena benang layangan yang keseret mobil boks. Jadi ketarik dan putus. Dioperasi dua kali. Jalannya sekarang masih begini, tetapi kami tetap bersyukur dia masih hidup,” ujar Rabiyem.
Meski kondisi fisiknya terbatas, Fadhil tetap menjadi tulang punggung kecil bagi neneknya. Setiap pagi, ia mengantar Rabiyem berjualan buah di Terminal Ceger menggunakan sepeda listrik, lalu menjemputnya lagi sekitar pukul 11.30 WIB.
“Kalau pagi nganterin, nanti jemput jam setengah 12 dan udah nungguin di musala. Saya kadang sedih, dijemput-jemput cucu,” tutur Rabiyem.
Rabiyem mengaku hanya mengandalkan penghasilan sekitar Rp 70.000 per hari dari berjualan buah, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, ia bersyukur karena Fadhil tetap bisa bersekolah di SD negeri secara gratis dan kini melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat.
Fadhil mengaku tetap bersemangat dan bercita-cita menjadi seorang polisi agar bisa membanggakan neneknya.
“Polisi, itu cita-cita saya dari kecil. Terima kasih Mama Ndut. Mama Ndut udah banggain aku dari kecil sampai sekarang, ngasih makan, ngasih sembako, ngasih duit,” ujar Fadhil sambil tersenyum.
Rabiyem tak kuasa menahan haru saat melepas cucunya di hari pertama masuk Sekolah Rakyat.
“Ya, sedih, ya senang. Karena bocahnya itu nurut, dibilangin juga mau. Katanya, ‘Mama jangan takut kalau saya sekolah di Sekolah Rakyat. Nanti saya semangat.’ Saya yang ngurusin dari bayi, jadi rasanya ya sedih banget,” pungkasnya.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post